Indonesian Idol Dan Masalahnya

Ya apapun itu Indonesian Idol, serta acara pencarian bakat tanah air lainnya, entah itu dari tarik suara maupun tidak? efek terbesar dan terdahsyat adalah: “KETENARAN DAN KEPOPULERAN”. ya meskipun ada hal lain, cuma menunjukan bakat diri, ingin eksis atau cuma mau coba aja, ujung-ujungnya pun sama. karena bila seseorang sudah diekspos publik, apalagi sudah jadi Publik Figur seperti: Aktor, Aktris, Penyanyi, Musisi, serta pihak yang terjun dalam bidang Entertainment lainnya, tidaklah lepas dari semua itu, Kilau ketenaran, kepopuleran (tak pernah hilang).

Hal yang wajar sekali bila seseorang ingin tenar (tidak ada laranggan) oleh siapapun juga, silahkan saja. meski diri bahkan kehidupan berhak diketahui penggemar/orang (itu adalah resikonya), dan lagi2 ketenaran adalah ulahnya yang dicari seseorang demi itu. ketenaran memang menyilaukan, semua orang ingin berada dikilaunya.

Seseorang yang tidak mau tenar (mungkin) “peka” terhadap resikonya, dia tidak mau menonjol, tidak menceritakan pribadinya, menjauh dari sinarnya (juga hal wajar). Kesimpulannya adalah, akan membahas kenapa “Ketenaran” itu penting sekali? selalu dicari di kehidupan, termasuk di Ajang Pencari Bakat? penyebabnya mungkin (salah satunya) ada dibawah ini:

Ketenaran adalah anugrah bagi orang yang ada didalamnya, dan usaha seseorang sebagai tiket masuk menuju kesana. 

Citra Skolastika adalah jebolan dari Idonesian Idol (Season 6). sekarang dia dan juga jebolan lainnya (atas usahanya) di ajang yang sama, tinggal memetik buahnya saja. maksudnya jalan mereka sudah disinari “Kepopuleran” istilahnya hanya tinggal mengeluarkan “Karya” saja, selepas bisa bertahan dalam “Belantara Rimba” dunia industri itu soal lain, toh mereka sudah disana kan? jadi untuk seseorang yang ingin menjadi seperti mereka, tentunya akan banyak sekali (dilain profesi pun) tak jarang berubah haluan demi ingin menjadi seperti mereka.

Manusia dengan manusia yang lainnya (bila menurut Hukum dan Pancasila) itu adalah sama dan kesamaan itulah adalah HAK sebagai senjata, pelecut, cambuk, rotan, menjadi hal yang wajar bila ingin mengikuti idolanya, apa saja itu? Kepopuleran, Penghargaan, Prestige (Gengsi) yang terangkat. akan tetapi  seorang idola yang sudah sukses pun (dimasa sebelum sukses) juga tidak semudah membalikan jemuran…ups…tanggan. keringat, kegelisahan, mental, kesiapan, serta ingin terus menampilkan yang terbaik, sangatlah sulit bagi siapapun (kecuali) dari pengalamannya. apalagi di ajang berkelas Indonesian Idol.

Maka dari itu siapapun seseorang yang “Gagal” di Indonesian Idol, janganlah patah arang. sebab usaha anda masih bisa dilain tempat, bisa saja itu ke: Akuntan, PNS, Pegawai Kantoran,dll. dan satu hal lagi karena sudah berani menunjukannya saat Audisi, kenapa tidak menunjukan keberanian yang sama ditempat berbeda? (Siapa tahu) seseorang itu menemukan “The Better Place”.

Memang ada orang bilang, “sesuatu yang tidak bisa janganlah dipaksakan” oleh karenanya seseorang akan terus berambisi “Liar” maupun “Tidak”, segala sesuatu yang ingin diraih tersebut menjadi “Tersakitan” atau “Selalu Ingat” dan itu tak baik buat kesehatan mental seseorang. bila seseorang tak berjodoh di Indonesian Idol (tentu simpatik untuk mereka), kalau kemampuan orang disana tidak bisa diterima, mengapa tidak arahkan ketempat lain?(bukan di ajang yang berbeda) melainkan yang terbaik bagi seseorang itu.

Bakat adalah masalahnya, seorang penyanyi sudah dilahirkan punya itu (tidak bagi semua orang). bila seseorang tidak mempunyai bakat dibidang itu janganlah dipaksakan. dan bila seseorang punya bakat dibidang lain, (umpama itu) di Bisnis…Lepaskanlah “Mimpi” ingin tenar itu, lalu berlarilah di Bisnis, yang sudah dijamin sesuai dengan kemampuan orang itu. jadi dengan cara tidak memaksakan, lalu menginjak “Bumi” lagi, membuang harapan yang tidak “Bisa” tersebut: hidup seseorang tidak akan dimakan beban berlebihan, juga waktu yang terbuang.

Sewaktu Perang Dunia II rakyat Ukraina serta negara jajahan Russia, punya satu mimpi bersama yaitu: “Kebebasan”. mereka lalu memberi harapannya kepada “Nazi”, akan tetapi Nazi pun tidak bisa memberikan mereka harapan, melainkan “Kekejaman”. sadar atas ancaman Nazi, mereka bergabung dengan tentara Russia dan hasilnya mereka rela mati demi mempertahankan “Tanah Airnya”. karena apa?

“Membuat harapan palsu itu mudah, apalagi di dalam pikiran seseorang. bila harapan tidak terkabul, untuk apa dipertahankan? lepaskanlah, carilah harapan baru yang bisa membuat seseorang itu, masuk kedalamnya”.

Dalam mencari ketenaran memang tidak mudah. akan ada badai, hujan deras serta angin kencang, membuat seseorang ingin berhenti, berhenti dan ingin terus berhenti.

Mannequin atau Maneken adalah boneka contoh dengan pakaian terpasang yang biasanya terdapat ditoko-toko, mall-mal atau pusat perbelanjaan. dengan Mannequin seseorang pedagang dengan mudah memasang pakaian dari desain apapun dipajang didepan tempat usahanya. dalam konteks Indonesian Idol, sang idola bukanlah Mannequin, melainkan panutan untuk lainnya. tujuan hampir sama (meski bukan boneka) menunjukan contoh keberhasilan dari “Gelar Juaranya”, mereka juga menjadi Role-Model bagi penggemar/orang lainnya.

Jadi buat seseorang yang ingin mengikuti mereka (sory) bukan menghina, ingatlah satu hal ini: 

“Bila seseorang idola itu (sebelumnya) bisa nyambung dengan penonton, penggemar dan juri, tak jarang diajang pencarian bakat lainnya, ingin mempunyai “Sang Juara” seperti/bahkan melebihi Juara sebelumnya”

Seseorang yang ingin menunjukan bakatnya (itu bukan berati itu tidak boleh) asal diingat saja: pentonton serta juri secara serentak ingin mencari sesuatu yang bisa mempersonakannya dan itu seperti “Juara Sebelumnya” atau yang lebih baik. istilahnya bila seseorang punya bakat bisa melebihi ataupun bisa menyamai (kurang lebih) dari sang juara itu (sudah dijamin), orang itu akan bisa melangkah bersaing (meski sesama teman), ditempat ajang pencarian bakat tersebut. dan bila mempunyai “Kemampuan” kurang/sangat dibanding “Juara Sebelumnya” (sory) mereka tidak akan memilih seseorang itu, lambat laun dipikiran orang lain akan berkata “Ya itulah hidup”

Supaya seseorang itu (Realistis) ingin menjadi juara, diharapkan mempunyai kemampuan lebih dahulu dan memang tidak semua orang punya. (sudah dijelaskan tadi) mengapa seseorang yang gagal harus melepaskan mimpinya? karena sudah pasti Anang HermansyahAhmad DhaniTantri Syalindri Ichlasari dan Titi DJ (Juri Idol 2014), akan memilih yang terbaik. (sekali lagi) kalau perlu melebihi juara sebelumnya, jangan tersinggung bila mereka menolak memberikan”Golden Ticket”.

Latihlah bakat, sebelum ke “Medan Tempur” (istilahnya). jangan berperang tanpa perlengkapan dan itu adalah “Bakat yang matang”. Regina kenapa dia bisa juara? karena dia bisa melebihi dari juara sebelumnya yaitu: Igo Pentury (juga punya kemampuan). Igo sama punya suara bagus, makannya dia bisa menang….tapi ini adalah kompetisi, segala perubahan bisa terjadi. yang harus dicamkan juga bagi seseorang akan mengikuti Indonesian Idol atau segala jenis kompetisi adalah: 

“Sang juara sekarang pun akan dikalahkan oleh sang juara baru, meskipun yang lalu lebih hebat. penonton (mungkin) tidak memperhatikan itu, selama ada yang lebih baik lagi, mereka akan menonton/mendukungnya, terus begitu, tak pernah usai” 

Hal itu berlaku di dunia Industri manapun. “Tunas Gugur” muncullah tunas baru dan dia (tunas baru itu) pun akan gugur juga (suatu saat nanti). maksud lain dari istilah “Tunas Gugur” itu adalah: seorang yang masih hijau, belum tenar akan berpeluang menggantikan Bintang tenar sebelumnya asalkan: si pengganti cakap dalam kemampuannya (kalau bisa) lebih baik dari “Sang Idola” lama, bila tidak? “Banyak sekali kayu hanyut disungai (Istilahnya).

Yang hebat dari efek silau ketenaran itu (juga dalam suatu ambisi), ada orang yang menggantungkan nasib “Hidup Dan Mati” kepada ketenaran tersebut. mereka yang tidak sadar atas konsekuensinya, disaat gagal baru merasakannya (bukan sewaktu dia bangga).

Konteks Reality Show itu selalu sama, lantas bila digabung dengan “Efek Silau Ketenaran” pembuktian dari seseorang, seharusnya dibutuhkan orang yang berhati “Lumayan Baik” dan tidak “Pilih Kasih” untuk membiarkan seseorang “Calon” tenar masuk. mereka harus lebih peka melihat dari perjuangan seseorang, bukan mengacuhkan sisi manusianya. kenapa mereka rela menunggu berjam-jam? kenapa mereka terus ikutan bertahun2? dan kenapa terus setia dengan ambisinya? mereka hanya ingin tidak dilupakan jerihnya, meskipun peserta itu harus sadar juga dari 2 hal ini, yaitu:

  1. Ini adalah Bisnis
  2. Dan mencari orang yang siap untuk diekspos masuk kedalam Bisnis itu.

Sama aja kan seperti orang bekerja? tapi Idol ini efeknya adalah Ketenaran.

Seharusnya istilah “Pantas Tidak Pantas” dihilangkan dan “Sang Juara” harus murni dari kemampuan menyanyi seseorang.

Ingin jadi “Presiden” yang penting “Pantas”, ingin jadi “Gubernur” juga sama. apakah semua orang dinilai dari “Pantas Dan Tidak Pantas?” seharusnya hal ini tidak harus berlaku dimanapun. lalu bagaimana bila seorang yang tidak pantas itu mempunyai kemampuan “Lebih Hebat” dari pada orang yang pantas tersebut? terus apakah sesuatu tidak pantas harus tersingkir? ini tidak masuk akal…benar-benar dan terlalu. orang yang punya “Kemampuanlah” seharusnya menjadi “Sang Juara”.

“Demi mendapatkan yang terbaik sejati tidak harus memilih yang pantas saja, melainkan dari kemampuan seseorang”

Bila melihat asal Negara pembuatnya Amerika Serikat dari “Sang Juara” beragam (orang putih, serta berkulit hitam) dan kontestan memampilkan berbagai Genre (bukan hanya musik Pop). para kontestan pun tidak takut2 bahwa suaranya akan turun, bila tidak mengikuti arah kemauan penonton, yang rata-rata kalo dari awal genrenya begini sampe abis pun sama.

Andaikata Indonesian Idol merata seperti di American Idol (mungkin) kasus Pujiono tidak akan merebak di media massa Internet. soal tukang parkir atau apapun itu (latar belakangannya) bisa diolah, dilatih dan di ajari (yang baik tentunya), supaya menjadikan sebuah acara bakat menyanyi tidak timpang pilih:

“Bahwa semua golongan boleh masuk kesana. namanya juga Indonesian Idol (Idola Indonesia) berati semua warga Indonesia yang mempunyai hak warga negara, tanpa kecuali siapapun  dia (dengan kemampuannya), berhak masuk dong, termasuk juga Penyanyi daerah,dll”

Saat ketimpangan ditentukan oleh “Pantas Tidak Pantas” ini salah besar, karena belum tentu yang dianggap tidak pantas itu jelek. bisa saja kan dia tegang (karena baru pertama) tampil, jadi penampilan diaudisi kurang bagus (serta masalah lainnya). ya namanya juga baru jangan disamakan kontestan baru dengan penyanyi Pro yang sering tampil diratusan konser. penyanyi Pro pun awalnya pasti tegang dan mencari-cari yang terbaik bagi perform-nya, begitu juga mereka.

Kemampuan menyanyi seseorang itu memang beragam (banyak) ada Rock, Pop, bahkan dangdut,dll apapun itu selama musik tersebut dari negara Indonesia, seharusnya jangan malu ditampilkan di Indonesian Idol (bila tidak) tak memberi kesempatan kepada semua genre musik. Dangdut Why Not? (misalkan) dangdut itu juga musik “Mengakar” negeri sendiri loh. nah (kalo mau aga sopan) kenapa ga mengikuti “Format” musik “Ayu Ting Ting” biar dangdut tapi ada popnya, jadi masuk keselera orang pop. emang kalo tradisional juga ga bagus buat di ajang berkelas, (akan tetapi) bukan berarti menolak semua jenis musik (asli) negara sendiri.

Bila kemerataan sudah ditampilkan tapi sesuai dengan kontes (sekali-kali beda boleh) maka akan ada berapa  keuntungan yang didapat  yaitu:

  • Musik asli Indonesia yang sekarang sudah sedikit ditinggalkan, akan dibangkitkan lagi (apalagi itu) di ajang besar sekelas Indonesian Idol yang memberikan kesempatan. 
  • Penyanyi dari jenis musik apapun (yang tidak diketahui) atau belum di lihat oleh banyak orang (orang bahkan tidak tahu) akan menampilkan diri menjadi kebanggaan bila diberi kesempatan. contoh itu penyanyi jenis tidak umum (sedikit beda), mungkin saja dia menampilkan yang bisa cocok ditelinga pendengar meski genrenya berbeda.
  • Penyanyi dari Daerah akan menjadi daya tarik bagi penonton di Idol. coba bayangkan berapa banyak musik serta penyanyinya (bersuara bagus) tapi karena tradisional dia tidak bisa tampil? format daerah mungkin itu beda konteks, tetapi manusianya sama saja seperti kontestan lainnya, mereka bisa diolah menampilkan kemampuannya, bila diberi kesempatan.

Dari merata munculah perbedaan, dari perbedaan tersebut muncullah sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itulah mungkin saja memunculkan angin sejuk buat penonton (mungkin) efeknya bisa lari kemana2, termasuk ke jenis aliran baru serta industri. 

**************************

Selesailah sudah post tentang Indonesian Idol serta permasalahnya yang ada, yang sebenarnya butuh banyak lagi diperbaiki (sistemnya) untuk lebih maju lagi. mulai dari kemerataan yang belum merata, sampai ke segala jenis musik masih takut-takutan belum berani harus pasti ditampilkan, yang secara sadar terus menampilkan “Musik Umum” dan “Musik Sopan” seperti biasanya, itu lumayan membosankan. format bisa dirubah lalu perbedaan bisa diterima, tetapi tetap dengan konteksnya. ya sedikit beda boleh daripada itu-itu terus.

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Musik dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s