Pengertian Arti Pancasila

garuda_

Pancasila Adalah dasar untuk Negara Indonesia. tetapi sebenarnya arti dari Pancasila itu sangatlah banyak sekali, mulai dari Kebebasan Hak Beribadah, Kemanusiaan, Persatuan, dan sebagainnya. kita akan membedah dan mencari sesuatu yang sangat berharga dari Pancasila (tanpa mengurangi arti pentingnya) dan juga mencari pengertian yang terkandung didalamnya. apakah saja itu? bisa dilihat dibawah ini:

Apa Itu Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskertapañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Yang tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945. meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 1:

Seseorang yang takwa terhadap Tuhan YME menurut ajaran masing-masing, seharusnya menjadi salah satu prioritas yang utama dalam perjalanan hidup suatu bangsa. keadilan yang merata terhadap Agama lain bisa dijalankan secara merata dalam Sila ini. (maaf) bukan menilai dari sesuatu yang pernah terjadi dinegara ini, contohnya adalah: Pembatasan Beragama, Mendiskriminasi Agama Lain, Melarang umat untuk beribadah ditempat ibadahnya,dll.

Memang dalam kenyataannya sebagai anak bangsa yang dimuliakan dan anak bangsa yang mempunyai kekuatan (untuk menerima perbedaan). seharusnya bisa melupakan rasa “ketidakadilan” didalam perjalanan hidup beragama. walaupun berbeda, tetap dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). seseorang yang berkuasa atau punya kekuatan untuk merubah sesuatu, adalah bijaksana untuk membantu umat lainnya untuk bisa beribadah dengan layak, sama seperti Agama yang kita anut. sudah sepatutnya juga semua Agama mendapatkan perlakuan yang adil dan merata, bukan hanya dalam satu wilayah saja, melainkan seluruh wilayah NKRI. dengan begitu kemanusiaan yang adil dan beradab bisa cepat dapat tercapai dalam suatu Negara.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 2:

Hormat menghormati terhadap pemeluk agama, sebagai tambahan juga “Menghargai” isi dari semua Ajaran-Ajaran Agama lain, itu adalah langkah terpenting untuk mewujudkan terbina kerukunan hidup. tanpa menghargai (bukan sekedar menghormati saja) yaitu dari seseorang berbeda dalam suku dan bangsa, praktis bisa menjadi satu serta bisa membaur tanpa melihat dari (ketidaksamaan) terhadap Agama lain. dalam tradisi serta pelaksanaannya, kita bisa melihat sesuatu berbeda dalam setiap Agama, Contoh: dalam Agama Buddha, mengapa mereka memakai Dupa atau Hio, dalam ibadahnya? bila seseorang melihat/mengetahuinya “seharusnya” bisa menghargai dan mengerti bahwa itu adalah bagian dari tata cara ibadah Agama Budha, sama seperti Agama yang kita anut (mempunya tata cara dalam beribadah juga). meski berbeda-beda, hal itu tidaklah menjadi suatu permasalahan. dengan menghargai terhadap Agama lain dan bisa menerima sesuatu dari itu, seseorang telah mewujudkan dari Sila Pertama ini.

Memang tidak ada salahnya bila seseorang untuk mengetahui sesuatu terhadap ajaran agama lain, asal kita tetap bertakwa terhadap Agama kita sendri, itu tidaklah suatu masalah bila Kurt Cobain (penyanyi dan pendiri band Nirvana) menamakan Bandnya dari Ajaran Buddha: Nirvana atau Nirwana (dalam bahasa Indonesia). padalah Kurt adalah pemeluk Agama Kristen. Mahatma Gandhi (tokoh dunia) menggunakan ajaran Ahimsa (dari ajaran Agama Mahavira), untuk memerdekakan Negara India dari Inggris, yaitu cara tanpa kekerasan yang sukses dalam sejarah dunia. serta banyak Tokoh Dunia lainnya (mau) untuk berbagi serta (mau) untuk mengetahui dari ajaran Agama lain. jadi kesimpulannya adalah: sudah saatnya untuk menghargai ajaran Agama lainnya serta menerimanya, bila bukan sekarang waktunya, kapan lagi? nomor 2 ini bagus dan sangat penting untuk mencegah Konfilk yang kepanjangan perbedaan beragama…bila dijalankan oleh seseorang.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 3 Dan 4:

Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, ini juga penting sekali untuk di jalankan, agar tidak terjadi sesuatu “yang buruk” dimasa mendatang. dijaman Romawi kuno (dalam sejarahnya) ajaran Kristen selalu diburu bahkan dibunuh bila ketahuan. banyak orang secara diam-diam untuk beribadah. meski akhirnya Constantine the Great, menjadi Raja Roma pertama (yang memeluk Agama Kristen) dan dia juga yang membuat aturan pertama untuk beribadah dihari Minggu. setelah melihat ada Salib diangkasa luas saat berperang, Constantine tidak pernah berganti Agama lainnya hingga kematiannya.

Elizabeth I (Ratu Inggris termasyhur) merelakan hidupnya untuk tidak menikah sampai hari kematiannya. karena bila dia menikah dengan seseorang dari salah satu dari Agama Kristen (Katolik atau Protestan) dia dianggap memihak satu Agama tersebut dan bisa menimbulkan Perang Saudara, (dia adalah penganut Katolik). dalam sejarah sebelum dia yang kelam, dimana Agama Protestan diburu oleh Ratu (sebelum Elizabeth I naik) yaitu Mary I, (diduga telah membunuh 200 atau 300 orang Protestan). minuman Bloody Mary pun terinspirasi olehnya. Elizabeth I terus menjaga kedamaian dalam kebebasan beragama diseluruh Inggris, selama dia berkuasa.

Memaksakan kehendak dari suatu agama, dan menganggap satu Agama itu superior sering terjadi dalam Negara Afrika, dimana suku serta agama kadang menjadi darah yang mengalir dijalan-jalan. hal itu tidak tercermin dalam perwujudan Pancasila yang sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar. dimana seharusnya “Menghargai dan tidak Memaksa” menjadi pegangan dalam perdamaian suatu umat Beragama. bila suatu Agama (yang mempunyai kuasa) tidaklah etis menggunakan kekuatanya seperti di Myanmar tahun 2013: orang-orang Muslim Rohingya, menjadi korban. yang terpenting adalah membuka hati, menghargai serta menerima ajaran/kehadiran orang dari Agama lain…itulah kunci…untuk menjaga kerukunan umat beragama.

Sila Kedua: Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

  1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 1, 2, 3 dan 4:

Sudahkah kita mengakui manusia itu sama? semua warna kulit adalah sama? suku dan daerah itu juga sama? bila sudah, Selamat dan Congratulation anda sudah tidak memikirkan soal kebencian terhadap manusia lagi, lalu menjalankan hidup anda dengan damai. karena bila belum anda, tentu anda tidak bisa menerima seseorang dari luar (daerah, suku, ras) anda. hal itu parah sekali bila ada sesuatu kekuatan dahsyat…hal ini bisa menumpahkan darah seseorang. Rwanda Genocide, adalah contohnya. lebih dari 500 bahkan 1 juta suku Tutsi dibantai….sadis bukan? supaya hal ini tidak terjadi, maka dari itu…..ubah pikiran anda Nyatakan: “Semua Manusia Itu Adalah Sama Dan Cintailah Sesama Manusia”. bila sudah ditanam dalam pikiran anda, sedalam-dalamnya, percayalah persamaan persamaan hak dan derajat sesama manusia (bisa terwujud) tanpa itu….Rasis, Kebencian dan Menghindari orang yang berbeda (tidak sesuai) dari diri anda…terus ada dan terus berlanjut.

Demi mencapai perdamaian manusia kadang harus mengerti terhadap manusia lainnya dalam kehidupan, “rem” itu untuk mencegah manusia dari perbuatan/sesuatu yang buruk. tanpa rem tersebut, seseorang yang panas akan terus “berjuang” demi sakit hatinya. untuk mewujudkan nomor 1 sampai 4, kita harus memakai rem tersebut, apa itu: sabar, mengerti dan memaklumi. bila ada orang (dari suku lain) sedang panas hatinya dan membuat panas kita juga. lihat dulu dia, rem dahulu, mungkin saja itu memang sifat/sikap-nya seperti itu. setelah itu baru telaah maksudnya..”apa orang itu sengaja atau tidak sengaja membuat kita marah?” bila sudah mengetahui hal itu, barulah tindakan lebih lanjut, bila sengaja…kita baik-baik dulu (tegur halus) itu cara yang damai. bila tidak sengaja (jangan menyudutkan untuk minta maaf) biarkan dia melihat perbuatannya itu (bisa jadi nanti) setelah berpikir dari kesalahan dirinya, dia meminta maaf terhadap anda. wong apa-apa sabar dulu lah mas…jangan langsung emosi…benar kan?

Bila manusia menyukai rasa damai dalam dirinya maupun terhadap orang lain (menerima tanpa membeda-bedakan), maka rasa Tenggang Rasa meminimalisir rasa Semena-Mena akan pudar, seperti lagu dari Rossa – Pudar: (selingan dengar musik)

Bagaimanakah cara mencegah konflik terhadap sesama? hal itu adalah penilaian masing-masing dalam diri manusia, yang utama adalah kekuatan untuk berhenti menyakiti. mengontrol sesuatu adalah bagian dari kekuatan manusia, kontrol untuk tidak meyakiti manusia adalah yang paling utama. menyakiti seseorang itu mudah, tapi bagaimana dengan membuat manusia itu tidak takut dan terlindungi disisi kita? bila suatu golongan/kelopmpok/negara punya sesuatu untuk membunuh sewenang-wenang-nya, mereka pun bisa berbuat sebaliknya…itulah kontrol, kontrol itu juga keadilan. seorang Raja bisa membebaskan seseorang yang bersalah, walaupun orang itu terbukti salah (menurut kebaikan/pertimbangan)…..kekuatan itu disebut “Belas Kasih”…..itulah sesuatu yang harus dimiliki manusia, demi mencapai kedamaian. jadi selama tidak mau menyakiti sesama tanpa sebab, kedamaian bisa tercipta.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 5 dan 6:

Banyak orang yang bilang, kesuksesan adalah tanda bahwa manusia itu telah berhasil (mungkin saja benar?). tapi berapa banyak-kah seseorang yang tidak dapat meraih sukses didunia ini? apakah mereka telah gagal sebagai manusia? (itu salah). menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bukan dinilai melalui kesuksesan seseorang saja, tetapi melalu pengertian dasar terhadap manusianya sendiri. ada banyak “type” manusia dimuka bumi, intinya tidak jauh dari 2 saja…melakukan perbuatan baik dan buruk, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan hal yang keterbalikannya pula. orang baik belum tentu bisa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bisa saja sisi berbeda yang melakukannya. hal tersebut bukan dinilai melalui sikap/sifat dasar manusia, melainkan dari kesadaran manusia sendiri untuk berbagi, memberi serta hidup bersama.

Kesadaran pula yang bisa membuat manusia menjadi satu, tercipta-lah Kelompok, Organisasi, Komunitas, Kegiatan, serta yang bersifat kemanusiaan. kegemaran bersama, kesatuan bersama, terjalin manusia dengan lainnya juga melahirkan history (sejarah), untuk berkembang demikian sangat pesat dimasa depan, juga perkembangan yang beragam (variasi) dari perbuatan manusia lakukan. itulah yang disebut Evolusi, alias perkembangan biak (yang sudah dilakukan nenek moyang kita). dari manusia yang mempunyai buntut belakang, menjadi manusia yang sempurna seperti sekarang (bukan dalam teori Agama) dan akan pasti kembali menjadi bentuk semula. bersatu padu, saling bersama dan bercengkarama,dll adalah sifat manusia paling dasar alamiah manusia. tetapi untuk mewujudkan dari Nomor 5 dan 6, hendaknya manusia mau berbaur/bersama dengan siapapun jua, bila itu tidaklah mungkin (melihat kelas dan tahta) dan saat rasa itu sudah tidak lagi menjadi acuan, hendaklah manusia memberi sedikit/atau lebih kebaikan, seperti yang ia lakukan terhadap manusia yang ia cintai bagi mereka.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 7 dan 8:

Setiap manusia punya sisi “Hero” itu selalu ada dimanapun juga. saat kebenaran tidak bisa ditegakan (juga keadilan), manusia yang berperasaan peka, tidak tega-an atau tahu bahwa itu salah, dia akan diam memikirkan, apalagi bila tidak bisa membela hal itu. kepedihan nyata akan melahirkan kemuakan suatu saat nanti, saat tidak tahan terhadap sesuatu yang ia tidak inginkan. maka dari itu sebenarnya untuk membela kebenaran dan keadilan diperlukan sisi pengambilalihan resiko yang manusia lakukan dalam membela-nya. kadang awan gelap, serta hujan lebat menyertai mereka (yang berani ambil resiko) ditambah faktor sisi gelap, membuat manusia jadi terhenti.

Sebenarnya membela kebenaran dan keadilan bukan hanya untuk mengungkap perbuatan jahat saja, melainkan untuk setiap warga negara yang tinggal didalamnya, hak manusia, persamaan derajat. bila dalam masyarakat tidak mendapatkan kebenaran dan keadilan, seandainya kemarahan sudah terbendung (tragedi 1998 contohnya) Pemerintah yang kuat sekalipun, (bahkan Tragedi Mesir 2011) bisa terjadi ditiap negara manapun juga. hak manusia dan persamaan derajat juga tidak bila dilanggar, peristiwa yang terjadi dari penyimpangan terhadap HAM…dijaman sekarang, manusia bisa berkicau dimanapun juga. karena kemuakan atas kekejaman dimasa lalu. mereka hanya mau berhenti menyaksikan itu dan hidup normal tanpa kemunafikan.

Lagipula tidaklah “etis” melawan Rakyat sendiri, Orang sendiri….daripada mengeluarkan tenaga untuk melawan “Darah Sebangsa” lebih baik bekerja sama untuk menghadapi situasi yang akan diterima dimasa depan….terhadap permasalahan yang ada, datang silih berganti. bukan berarti harus antipati melawan terhadap bangsa “Asing” dengan senjata (itu tidaklah perlu). tetapi bahu-membahu bersaing dengan Negara lain (secara Sportif) demi kemakmuran Rakyat-nya, yang itu bisa menjadi “Setia” (Sangat) terhadap pemerintah sendiri.

Pemerintah layaknya (seperti Guru) mereka bisa mengajarkan secara baik kepada (seperti Murid, yaitu Rakyat banyak) untuk saling bekerjasama dan tidak menganggap musuh “Orang Sendiri”. dengan begitu, keramahan yang dihasilkan bisa disampaikan ke Negara Lain, lalu terciptalah kerjasama yang baik dengan bangsa lain….karena bila masalah, konflik dan perseteruan belum diselesaikan terhadap “Orang Sendiri” bagaimana mereka “Welcome” terhadap Bangsa Lain. Peristiwa masa lalu telah mengajarkan (Kehormatan Bangsa) bisa didapat bila “Rakyat Bersatu” dalam berinteraksi dengan bangsa lain. tanpa persatuan, Pemerintah seakan bekerja sendiri.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 1, 2 dan 3:

Sebenarnya nomor 1 ini sangatlah sulitlah untuk dilakukan….karena menitikberatkan kepentingan pribadi atau golongan. lihatlah sekeliling kita, apakah semua orang melakukan hal tersebut? (bukan menyalakan masyarakat banyak)…sangat jarang bila tidak tersentuh hatinya. hal itu wajar, karena bila melihat: Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. dengan menjunjung hal tersebut, maka lahirlah kebebasan…kebebasan melahirkan Individual, warisan dari Negara Demokratis.

Tetapi untuk meningkatkan persatuan dan juga kesatuan (di jaman sekarang). biasanya tergantung dengan peristiwa “Gejolak Peristiwa” yang terjadi. contoh: di Sepakbola Nasional….yang sangat terasa bisa dilihat oleh masyarakat banyak. peristiwa tersebut (beberapa tahun kemarin) dimana orang-orang (tidak mengenal sama lain) bersatu disatu tempat (Stadion GBK) maupun layar kaca. menonton disatu tempat, mendukung disatu tempat, mendukung satu bangsa (saling bersatu) meski itu adalah Sepakbola, tetapi persatuan-nya kental terhadap Nasionalis.

Untuk meningkatkan Persatuan, persatuan, kepentingan bersama, juga praktis keselamatan bangsa (didalamnya). ada sesuatu yang bersifat “Rela Berkorban” didalamnya pula. tapi untuk apa? (mungkin) seperti filsuf katakan. Aristatoles saja pasti akan memilih bermimpi Indah…bila dia hidup dimasa kini. seiring dengan tanpa berujung penyelesaian dan situasi yang begitu-itu saja, tanpa menyalakan sumbu….pemicu, pelopor (itu tentu saja). bila tidak kebosanan dan sifat individual, berkembang biak, turun menurun. menjadi kebosanan yang menghancurkan rasa persatuan tersebut.

Rasa cinta tanah air sudah ada, dalam diri masyarakat (itu tidak perlu diragukan lagi) bila tidak ada, mungkin seseorang akan ingin mengungsi, selepas punya biaya atau tidak? yang pasti ada keinginan untuk cepat keluar dari negeri. tetapi kenapa rasa itu, seakan ada yang kurang dalam suatu negeri? yang dahulu kala sempat dijuluki “Macan Asia”. jawabannya ada 2, tidak ada persatuan lagi dan rasa untuk kepentingan bersama. jarak itulah yang memisahkan Nasionalis. seorang buruh jarang/susah untuk bertemu, bahkan hanya untuk tersenyum saja (semacam perwujudan rasa terima kasih) terhadap “BOS BESAR” mereka. Rakyat seolah ditinggalkan sendiri, “Biarlah dia yang mengurus nasib sendiri” dari sini berujung kepada ketidakmampuan (kerinduan) seseorang atas pengarahan Nasionalis Bangsa. tapi memang tidak adanya kesatuan, persatuan, dan kepentingan bersama, itu tidak menghacurkan cinta tanah air dan bangsa…itu tetap utuh….bila “Vas Bunga” telah retak…lem dan isolasi-kan saja menjadi satu.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, Dari Nomor 4 dan 5:

Bukannya tidak bangga dengan warisan dari Indonesia, apa sajakah itu? Wayang, Batik, Tarian Tradisional,dll okelah itu adalah Tradisi. tetapi perilaku masyarakat kebanyakan adalah mencari yang simple dan satu hal lagi adalah, yang umum rata-rata sudah dipakai orang banyak. contohnya adalah bila kebanyakan (arah perkembangan) menuju ke Facebook sebagai idola, maka rata-rata masyarakatanya pun cenderung kesana. maaf bukan tidak menghargai tradisi kita, okelah itu warisan masa lalu, yang meski dimasa kini, generasi kita bahkan tidak mengenai (terkena dampak) dari warisan tersebut….bukan menghindar (mereka tetap menghargai) namanya warisan tradisional indonesia, tidak boleh dilupakan apalagi dilupakan, begitu saja dong?.

Tetapi karena masyarakat banyak cenderung mencari “Sesuatu” yang keren dijaman sekarang, HP, Laptop, PS3, Xbox 360, PSP, LCD & LED TV,dll maka kecenderungan kearah “Tradisi” menjadi tertinggal, dari “Barang Asing” tersebut pula, lahirlah Ketidakbanggaan terhadap sesuatu bersifat Lokal. hal itu wajar, Amerika Serikat saja butuh 350 tahun untuk berkembang maju seperti sekarang….maka dari itu….perkembangan-perkembangan yang “Baru” dimasa kini, akan menjadi biasa dimasa depan. bila di Amrik (bila dinilai dari Musik) masyarakat Indonesia masih suka terhadap musik “Easy Listening”, disana perkembangan musik Rock & Roll, Rock, Metal, Grunge, Pop, Boys Band,dll mereka sudah rasakan bahkan melewati era-nya, begitu juga dengan perkembangan kehidupan lainnya.

Meski begitu, perkembangan dinegara tersebut, sebenarnya masih kurang…yaitu…semangat gotong royong, keramahan, sikap tolong menolong yang pamrih,dll yang sebenarnya masih dipunyai dari orang Indonesia….mungkin itulah salah satu “Kebanggaan” dari Indoensia yang belumlah pudar. sikap sepeti itu (seharusnya bagus) dinegeri manapun, kesetiaan ber-“Tanah Air” + Nasionalis, contoh Vietnam…Rakyat Bersatu, masih berpeluang disana….begitupula Indonesia.

Meskipun kita (beragam) suku, daerah, tetapi tetap satu (Bhinneka Tunggal Ika)…dari masalah dari pesonal maupun kelompok (lebih dari satu orang) itulah yang meretakan “Persatuan”. okelah kita Indonesia, (misalnya) “gimana perasaan aku ini” (karena ada masalah) apalagi dengan emosi…kadang seseorang lupa dengan orang sendiri, yaitu bangsa. belum lagi ditambah efek permusuhan, itu bukanlah termaksud kedalam persatuan (tetapi masalah pribadi). karena itulah yang sering dialami bangsa kita. goyang kekanan-kekiri, seolah melupakan “Persatuan” tersebut. kalau sudah begitu bagaimana ingin mewujudkan (nomor 5) jangan harap persatuan dan kesatuan bangsa, muncul.

Individual juga yang meretakan Persatuan, meski sama ras dan negara, tetapi Kelas, Kesamaan dan Kepentingan bersama tidaklah sama. seseorang yang bersama-sama, jarang sekali mengajak seseorang yang tidak sependapat (selain juga kelas) entah karena sebabnya juga (selepas tidak kenal dan juga untuk apa pula). mereka jarang sekali mengajak seseorang bila tidak ada perlunya. bila ada perlunya dia datang, bila tidak…mereka sesama kelompoknya saja, teman baru dan kerabat,dll. jadi perkembangan itulah yang membuat Bhinneka Tunggal Ika (apa bisa untuk diwujudkan?) bila bisa, bukan beberapa keseluruhan, tetapi segelintir, bahkan sedikit.

Jadi tidak usah terkejut…selamat datang kedalam Demokrasi….yang anti Demokrasi mengakatan: “Demokrasi itu sedikit lebih baik daripada Chaos (tanpa Pemerintahaan)” yang menyukai Demokrasi mereka sangat mengerti, kadang ingin keluar dari Demokrasi…bila sudah keluar, merindukan Demokrasi.

Sila Keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam permusyawaratan / Perwakilan 

  1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, 1 s/d 7:

Kesadaran Manusianya sendiri, dari beberapa kepentingan-nya, itu tergantung harus “Mengutamakan” atau tidak? untuk negara dan masyarakat (juga) dia ingin “Mengutamakan” atau tidak? bisa terlihat disini. kadang kepentingan Pribadi (memang bukan rahasia lagi) banyak orang menganggap (ada yang mengatakan) lebih penting…bukan berarti Negara dan Masyarakat diabaikan begitu saja. Keuntungan adalah syarat yang paling utama….untuk mewujudkan (nomor 1) ini. karena dengan keuntungan, seseorang akan mendapat sesuatu dan tentunya Mengutamakan bisa terjalin….bagaimanakah bila tanpa itu? jawabannya adalah dari kesadaran manusianya tersebut….mungkin saja dari pribadi tersebut….bisa mewujudkan (no 1) tanpa pamrih. seperti yang disebutkan diatas yaitu (arah perkembangan), dimasyarakat…masyarakat sebenarnya (tidak ambil pusing) karena tercampur dari masalah yang ada….mengikuti contoh yang ada (umum) dalam masyarakat. hal itu wajar, melihat dari kesibukan, serta tanggung jawab (pribadi) maupun (kebersamaan) dari orang disekitar mereka.

Cara yang terbaik adalah, bila menyangkut (urusan orang banyak maupun terhadap orang lain) seharusnya “Rasa Pribadi” harus dikesampingkan dahulu, demi tercapai kepentingan bersama dimasyarakat. “Pemaksaan Kehendak” seringkali menjadi “Keharusan Yang Tidak Sesuai” dari diri manusia yang harus melaksanakannya. dalam menyangkut orang lain seringkali “Penalaran” itu berbeda…harus berhati-hati, tidak melalui keputusan seorang, melainkan bersama dengan yang bersangkutan. sistim ini dinamakan dengan Consensus Decision Making, atau Musyawarah bersama. tanpa ini, ditambah ketidaksesuaian, akan terpendam dari seseorang yang tidak setuju (tidak mungkin mereka mengungkapkannya) kecuali para penentang. jadi kesadaran manusia + dengan kepentingan yang “Seharusnya” milik bersama, bila terwujud untuk (No 1 & 2) ini, tanpa ini juga…bila berhasil…tidaklah balance….terutama menyangkut dimasyarakat luas…dengan beribu sifat dan sikap, serta penalaran-nya.

Musyawarah yang baik dan benar didasarkan hasil kesepakatan bersama dalam mencari jalan keluar persoalan yang ada. misalnya Desa ingin membangun Jembatan, yang dimana banyak anak sekolah, para pekerja, pedagang sampai ibu-ibu ingin pergi lewat jembatan (umpamnya) tidaklah layak. dari sini, perundingan bisa tercapai maksud dan tujuan (juga dana) yang tidak berat ditanggung oleh perorangan. tetapi layak diingat, dalam berunding dihindari kepala panas dan ucapan memicu (kontra) dengan jelas kepada orang lainnya. bila ada yang tidak kurang setuju, harap didengar dahulu, cari permasalahannya, baru dijelaskan dengan baik-baik (apa ketidaksetujuan tersebut?). suara kontra, langsung dengan nada tinggi biasanya menimbulkan kemarahan. dan bukan hanya satu pihak. untuk itu diperlukan juga “Kepala Dingin” juga. begitu juga “IDE” bila ada sebuah masukan, janganlah langsung di “Paksa” hargai orang yang juga mempunyai IDE juga. secara pelan-pelan, baru (waktu yang tepat) hendaklah mengutarakan ide anda. dengan begini, ide anda akan dipertimbangkan, selepas diterima atau tidak, toh anda punya andil terhadap “Penyelesaian” yang terjadi.

Ya apapun hasilnya itu, terimalah dengan hati yang tidak menentang, biar bagaimanapun (misalnya IDE anda tidak diterima, atau jarang memberikan andil) toh hasil tersebut untuk kepentingan bersama kan? jadi itu untuk kita juga dong? bukan berarti “Tidak mendapat tempat” dalam musyawarah anda kecewa dan merasa malas untuk melakukan kedepannya. kunci dalam menerima hasil musyawarah adalah: “KEIKHLASAN” demi kepentingan bersama. bila anda Ikhlas, “Ya gpp kok, yang penting buat bersama” meski dalam ke-emosi-an bagaimanapun, anda mencoba untuk menerimannya. dengan tulus.

Maka dari itu ketulusan hati anda diperlukan (sangat) disini. ditambah keputusan tersebut tidak melanggar (hukum dan norma yang berlaku) tidak ada masalah, kebebasan dalam mengambil keputusan. masalahnya adalah, keputusan itu tersebut. bisakah keputusan tersebut “Nyambung” dengan orang yang menerima aturan? bila tidak harus ada orang yang diminta pertanggung jawaban, siapakah itu? “SI PEMBUAT KEPUTUSAN” maka dari itu, selain demi kepentingan umum, hendaklah dipertingbangkan, apakah aturan itu nantinya “Berat” “Keras” terhadap orang yang mau menerimannya. arti jangan ada kesengajaan untuk menjadi “Ajang Balas Dendam” disini, percuma, ini demi kepentingan bersama kan? kalau balas dendam pribadi haraplah diselesaikan melalui “Pribadi” juga. janganlah membuat berat aturan yang berlaku.

Karena ini harus dipertanggunjawabkan oleh semua orang…contoh keputusan yang tidak adil dan merugikan didunia ini adalah: “Copyright” orang Youtube bahkan pengupload video, mengelukan sekali soal ini…dalam mengupload video (Selain susah dan lama), sering kali harus berurusan dengan ini: Copyright…dengan “Alasan” Konten, seringkali “User” (pengguna) videonya harus dihapus. padahal, kan bebas-bebas saja dalam mengupload video, bila video tidak boleh diupload (mengambil dari sumber manapun) lebih baik jangan beredar dalam “Ranah Publik”. seorang pengupload, wajar sekali mengambil video dari berbagai sumber (meski ada yang membuat sendiri) tetap saja kena…ini tidaklah masuk akal. dalam dewan Pemerintah AS, seseorang membuat aturan seperti ini dan hasilnya, selamat anda merugikan banyak orang.

Dalam mengambil keputusan musyawarah, seseorang harus “Siap” bertanggungjawab dari seseorang bahkan dari Tuhan YME (bila merugikan banyak orang). maka dari itu, sesorang yang bijak, yang bisa mengambil keputusan di musyawarah, seharusnya melihat sisi kemanusiaan, kebenaran dan keadilan, sebelum keputusan itu menjadi “Aturan”. janganlah melihat “Golongan Sendiri” saja demi memuaskan atau apa? tetapi hasilnya merugikan banyak orang. pribadi yang bijak, memang sudah mengerti soal ini, tetapi tidak merubah keseluruhan yang ada, lebih baik, sedikit saja menguntungkan banyak orang itu “Lebih Baik” atau tidak ada sama sekali. sekarang….waktunya kebebasan, beberapa banyakkah cerita yang tidak menyenangkan dimasa lalu, bisa menjadi acuhan…untuk merubah….untuk lebih baik….for the better future.

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, 1 s/d 6:

Untuk Nomor 1, ini. dalam diri orang Indonesia, mereka masih memilikinya, meski terpecah-pecah, bila dalam bersatu. pasti ada yang mau melakukan seperti hal ini. karena apa? sifat kesukuan dan daerah yang masih mengental (selepas) seseorang itu tinggal dikota, perilaku daerah dan adat yang menyatukan mereka. maka dari itu muncullah kebaikan terhadap sesama. yang ikhlas tanpa pamrih. bersyukurlah, kita masih disatukan daerah serta suku berbeda yang bersatu. tetapi apakah keadilan bisa merata dalam perkembangan-nya? seperti halnya Nasionalis, sesorang bisa membela terlalu berlebihan. suku dan daerah bisa terjadi layaknya Nasionalis. maka dari itu diperlukan untuk kesadaran manusianya sendiri mau “Membuka” dalam satu sama lain, bukan hanya untuk daerahnya sendiri saja. tanpa membuka diri dan mencoba, rasa dugaan yang berlebihan (mungkin bisa salah) terhadap daerah/suku lain.

Ketidakadilan dan bersifat adil, layaklah timbangan, janganlah berat sebelah….itulah keadilan merata. kadang untuk melihat dalam hal ini, diperlukan hati nurani…dimana seseorang diuntungkan satu sama lainnya. keadilan itu kalau dalam kehidupan manusia, dalam contoh: adalah anak, yaitu dimana bila ada anak yang tidak disayang (misalnya) cenderung sayang kepada anak yang berprestasi, pasti anak tersebut akan merasakan rasa “Pilih Kasih” dan bisa merugikan orang tuannya sendiri…nantinya. jadi supaya adil dan merata harus diberikan porsi yang sama, dan satu hal lagi, jangan memberikan dibelakang kepada salah satu anak. itu akan menimbulkan iri hati (selepas melabrak atau diam saja?) hal itu bukan sifat keadilan. keadilan dimasyarakat pun sedikit sama dengan contoh diatas, tetapi secara keseluruhan tidaklah bisa menuntut layaknya seorang anak. rasa kekecewaan tersebut bisa dihadirkan dari kehilangan dukungan (serta lainnya).

Dengan menjaga keadilan pula, seseorang bisa mengerti dan (Balance) seimbang, dalam menghadapi hidup. bahwa seseorang tersebut mengerti, tidaklah mencampur kehidupan pribadinya dengan masalah yang lain. juga terhadap  hak dan kewajiban. Hak adalah sesuatu yang boleh dimilik seseorang…orang yang punya hak adalah, setiap warga negara manapun (yang resmi) memiliki tanda penduduk….mereka boleh melakukan apapun juga (tidak ada orang yang boleh menghalangi) karena didunia ini (jaman sekarang) tidak menganut sistim perbudakan lagi, memang hak itu adalah milik setiap warga negara…tetapi biar begitu (hidup bebas), ada Hukum dan Pengadilan, yang memisahkan mereka mencegah dari perbuatan yang buruk. maka dari itu lahirlah Badan Pemerintahaan yang berwenang kepada keadilan dan keamanan. kewajibannya adalah melindungi siapapun juga, setiap warga negara yang tinggal di dalam sebuah negeri.

Kewajiban seorang Polisi dan Penegak Hukum adalah melindungi warganya, juga kewajiban warga negara adalah bisa mendapakan hidup yang layak ditempat tinggalnya. dalam Hak dan Kewajiban (satu manusia) warga negara akan dilindungi oleh negara. jadi kesimpulannya adalah setiap warga negara berhak untuk meraih/berusaha mewujudkan mimpi, angan, cita-citanya. bila ada seseorang yang melarang/menghalangi, dia berhak untuk dilindungi oleh sang Penegak Hukum atau menggugat si pelarang, tanpa terkecuali (seharusnya) memang seperti itu.

Dalam menjalani kehidupan seseorang yang dengan kewajibanya, perlu juga untuk mengetahui apa yang dilakukan maupun yang tidak dilakukan (tanpa melanggar norma dan hukum). demi mewujudkan impiannya tanpa dirinya terkena jeratan hukum dan merugikan pihak lainnya, seseorang juga harus menghormati hak-hak orang lain juga. karena setiap individual warga negara juga memiliki hak-nya, maka untuk mewujudkannya dibutuhkan kerjasama yang ideal tanpa konfilk dari seseorang (kedepannya). seseorang juga harus menghargai dan juga menghormati setiap yang dimiliki seseorang (ini wajib), dengan begitu lahirlah kerukunan jangka panjang dan menghasilkan hubungan tahun ketahun.

Tetapi harus diingat juga, dalam hak dan kewajiban seseorang juga tersimpan tanggung jawab untuk menolong. memberikan pertolongan ada juga bisa tergantung dari kesadaran manusianya. bila ada seseorang yang hidupnya jauh dari kemapanan seseorang (tidak mampu), hendaknya memberikan bantuan (walau sedikit) kepada seseorang yang tidak mampu tersebut. karena manusia warga negaranya berhak juga untuk memberikan kebahagiaan kepada seseorang (bila ia inginkan). di samping harus juga melihat kewajiban diri sendiri. cara yang efektif supaya seseorang tidak harus ditolong terus menerus adalah, mencari sesuatu dari kehidupan layak dan pekerjaan bagi mereka. bila seseorang ditolong, hanya mampu menguatkan detik, menit dan hari saja, bila ada pekerjaan yang layak, mereka bisa mencukupi ruang hidup mereka dalam menjalani masa depan. tetapi ketidakmampuan kadang membuat mereka seperti itu, maka dari itu diperlukan kerjasama yang padu dari Pemerintah untuk penyeselesaiannya..terutama dalam mencari pekerjaan yang mudah (tanpa harus gagal diterima, menjalani tes dan kualifikasi) bagi mereka. dalam membantu orang lain atau mengeksplorasikan (mengarahkan) seseorang, seharusnya dengan ketulusan hati yang ikhlas.

Mencari Pengertian Yang Terkandung Didalamnya, 7 s/d 12:

Dalam kehidupan manusia, tentunya dalam mencari materi…nomor 7 ini menyarankan untuk tidak boros, intinya adalah mengeluarkan uang seperlunya saja (jangan terlalu berlebihan). begitu juga nomor 8, tidak bergaya hidup mewah. sebenarnya untuk tidak boros dan bergaya mewah, itu bagian dari “Personalnya” tersendiri dan itu adalah termaksud dalam “Hak Asasi Manusia” juga. jadi Hak-hak individual juga  diatur dalam Pancasila. kesimpulan untuk (Nomor 7 dan 8) dalam yaitu:

  • Tidak bersifat boros
  • Tidak bergaya hidup mewah

Semuanya berpulang kepada Pribadi masing-masing dan itu bagian dari “Kehendak Bebas” (Free Will). jadi selama seseorang tidak melanggar hukum dan melanggar norma yang ada, (kebebasan dari nomor 7 dan 8) juga perbolehkan. tetapi karena Pancasila telah memberikan contoh yang baik kepada manusia, tidak boros dan bergaya hidup mewah, hendaknya (tergantung dari Individualnya) untuk menjalankannya.

Pancasila adalah bagian dari Republik Indonesia, dan Republik adalah, berasal dari bahasa Latin res publica, artinya “urusan awam”, yaitu, kerajaan dimilik serta dikawal oleh rakyat. Meski Republik berbeda dengan Demokrasi (semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka), tapi dalam NKRI, kebebasan Berdemokrasi termaksud di dalamnya, serta “Kebebasan Individual” bagi warga negara. seseorang juga berhak dalam Hak-nya dan kewajiban dikehidupan sehari-hari. oleh sebab itu Sila Kelima ini, yang menyatakan:

  • 9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  • 10. Suka bekerja keras.
  • 11. Menghargai hasil karya orang lain.
  • 12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Empat diatas (9 – 12), berarti semuanya itu berpulang dari “Personal” masing-masing (Prakstis seperti itu). seseorang (juga bisa) melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum (tergantung situasi) bila dia melakukannya, hukum akan menjerat seseorang atas perbuatannya (bisa juga tidak) bisa saja ia berdamai secara keluargaan. jadi berikutnya (10 s/d 12) yang bisa menjawabnya adalah “Manusianya” sendiri, apakah ia mau bekerja keras? atau menghargai hasil karya orang lain? serta mau bersama-sama mewujudkan Keadilan Sosial? (tanpa paksaan) seseorang mungkin saja bisa melakukan itu, ataupun tidak. jadi kesadaran manusianya (sekali lagi) yang menentukan….sebenarnya dalam Sila (dan nomor) lainnya (juga) tergantung dari apakah seseorang mau melaksanan, yang Pancasila jelaskan dalam kehidupan masing-masing? bila seseorang mau, berarti dia telah menjalankan (kebaikan) dari Pancasila…dengan catatan, kebaikan lainnya tidak berasal dari Pancasila saja, melainkan kebaikan yang tulus seseorang. itulah salah satu yang dimiliki manusia “Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya maupun orang lain”

Dalam kehidupan manusia, sangatlah sering seseorang melanggar dari Pancasila inginkan, disebabkan dari sifat “Acuh Tak Acuh” Personalnya (meski mereka tidaklah salah), karena Pancasila ini (selain pegangan/pedoman)….bila anda ingin menjalankan seperti yang Pancasila mau (silahkan) bila tidak (juga sama). akan tetapi kita harus menghargai (dari karya negara ini) yang telah dirumuskan sebelum Jaman Kemerdekaan, demi masyarkat/warga negara bisa hidup lebih baik. Pancasila ini ibarat seperti seorang Ayah, yang memberikan nasihat baik kepada anaknya….akan tetapi apakah anak tersebut mau mendengarkan atau menjalankan nasihat itu atau tidak? sekali lagi (semuanya itu)….tergantung dari “Manusianya Sendiri”.

***********************

So sekian Post tentang Pancasila (ideologi dasar bagi negara Indonesia) dan jangan lupa untuk Membaca dan Nonton Video lainnya dari https://wildanrenaldi.wordpress.com/…..thank you.

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Pengetahuan, Politik dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pengertian Arti Pancasila

  1. Istanamurah berkata:

    benar sekali bahwa harus mementingkan nasionalis yang memang notabene untuk kepentingan orang banyak dan ego diri sendiri semaksimal mungkin dikesampingkan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s