Pendekar Revolusi Part 12

Membuat Rencana Demi Masa Depan Kami

Matahari telah terbit, setelah kumpulnya kami semua di dapur dimalam hari tadi, hanya beberapa menit berselang kami sudah kembali ketempat tidur kami masing-masing. karena serangan dan bunyi senjata, bagai hilang ditelan bumi, kami pun merasa aman seperti hari-hari biasa, dimana jam tengah malam seperti itu untuk apa membuang waktu kami, maka dari itu tidak ada yang berbicara lagi setelah saya berencana untuk menyusun rencana siang harinya terhadap Tommy. bayangan dimata ku, seakan buram saat saya mulai bangun dan melihat sekitar ruangan kamar saya, hanya setitik sinar matahari yang masuk dari dibukanya setengah jendela kamar. saya yang mulai jelas melihat objek dengan keadaan baru bangun ku, mulai bangkit dari tempat tidur, tetapi duduk ditempat tidurku. saya langsung teringat meski baru bangun, untuk menyusun rencana. saya menundukan kepala saya kebawah, merasakan aroma baunya badan ku, seakan saya engan untuk bangun. tidak berapa lama dari duduknya saya ditempat tidur ini dikagetkan oleh kehadiran suara pintu yang terbuka, yang ternyata ada seorang wanita, memakai baju kuning, rok putih, berkacamata, yaitu istriku Isabela. dia melihat saya yang terbangun, saya pun melihatnya, dia tersenyum kepadaku dan berkata sambil memberhentikan langkahnya, tepat 3 meter dari jarak ku sekarang. “baru bangun ya?…mandilah dulu, semua orang diluar sudah bangun” katanya dengan suara lembutnya, dia melanjutkan langkahnya kesebelah ranjang dimana dia tertidur tadi malam, mengambil Chargen Handphone diatas sebuah meja kecil disudut kiri ruangan, melihat saya lagi lalu, menutup pintu kembali lagi dimana orang-orang diluar sedang berbicara dengan teh dan kopinya dimeja, masing-masing. 

“Saya tidak setuju” bentak Johan ke Anton, diruang tamu keluargaku, saat aku selesai mandi dan berpakaian, dan melihatnya berdebat, disana tidak ada ibuku, yang menyuapi ayahku makan dikamarnya. pukul 9:42 pagi ini, saya telah melihat dua Pendekar Revolusi telah bersitegang, masalahnya adalah, “lalu kita naik apa? naik bajaj?” kata anton yang berkata lagi, tetapi biar mereka berdua berdebat dilihat oleh istriku dan anak ku, Maria, tetapi tidak berisik, bersuara biasa, tetapi dengan tensi agak marah atas keduanya. saya tidak tahu kenapa johan membenci anton? yang pasti mungkin tidak ada dendam pribadi, karena mereka saja tidak pernah bertemu sebelumnya, selain berjuang bersama kami sampai ada disini. johan pernah berkata kepada saya, bahwa anton itu “pria urakan, tidak berpendiriaan dan tidak bisa dipercaya” saat aku bertanya kepadanya “apa benar seperti itu?” dia hanya diam dan mengelak, menyakinkan ku bahwa dia benar. tetapi bagi saya anton, meski dengan kekurangannya saya merasa teman baik saya, itu yang saya rasakan dengan hubungan pertemanan kami yang semakin akrab. mungkin johan salah. saya yang telah ada diruang tamu itu, langsung saya melerai, tapi tidak membentak “hey..hey..kawan kenapa nih?” kataku dengan senyum kepada keduanya, anton berkata setelah melihat ku, seakan tidak peduli saya baru bangun dari tidur dan berpakain rapi seperti ini. “pria ini kacau” katanya, lalu dia mengarahkan ke arah maria “maaf, bukan mau menghina suami anda, tetapi….” tambahnya lagi, dan dibalas oleh maria dengan pengertian. “memang ada apa masalahnya?” kataku kepada anton, tetapi johan malah menjawabnya “biasalah, orang ini aneh” dengan bertolak pinggang, juga rokok ditangan kirinya, “dia bilang untuk kendaraannya, dengan bus” johan berkata, melihat kearah depannya, dengan kesal. saya pun langsung mengerti soal itu, oh ternyata soal kendaraan? maksudnya juga saya mengerti kendaraan yang akan mengantar kami kebogor. 

“Oh soal itu?” kataku pelan, memandang johan yang duduk kaku serta tegak, mebelakangiku. dia tadi berkata tidak melihat kebelakangnya dimana ada aku berdiri, dibelakang johan dan kursi rotan ruang tamu ini. saya berkata lagi, sambil berjalan menuju tengah area ruang tamu, dimana ada meja yang berserakan oleh tumpahnya teh dan kopi serta, abu rokok yang bertebaran tidak beraturan, lalu saya mencari tempat duduk kosong, dimana ada satu tempat duduk kosong disamping anton, setelah aku duduk disana, disofa rotan, saya bisa melihat jelas muka johan yang sedang sedikit emosi, johan duduk bertiga disana, disamping kirinya ada istriku dan anakku. saya pun langsung mengambil tindakan aman, yaitu mendamaikan keduanya, saya merangkul pundak anton dan berkata “ya sudah, jangan ribut” menepuk pundaknya lagi, itulah tanda pertemanan bagi saya. anton melihat saya, kedua mata saya yang segar dipagi hari ini, dia diam saja, mencari objek lain memandang dan berpikir untuk perdebatan soal ini. “ayo lah kawan” panggilan akrab saya kepada mereka, menandang anton disamping kanan ku, dan memandang johan didepan ku. “masalah ini kan…kita bisa cari penyeselesaiannya dengan tenang” kata ku “lagi pula, soal mobil apa, soal mobil yang membawa kita, kita saya belum tahu, dapatnya darimana” tambahku tenang “maka dari itu kepala kita harus dingin, oke ya?” memandang lagi keduanya. untungnya disituasi sedikit panas tensinya itu diademkan oleh kehadiran ibuku yang sudah selesai menyuapi ayahku, yang setelah minum obat, terbaring kembali keranjangnya. setelah mencuci piring didapur, tadi, ibuku langsung kesini dan dia dengan lembutnya berkata “semuanya apa sudah makan?” perkataanya itu membuat kami semua menuju kearahnya, kecuali johan, yang tetap memandang kedepan, tanpa melihat anton, tetapi akhirnya dia melihat ibuku juga. saya yang melihat itu kesempatan untuk menunda pertengaran kecil ini, lalu berkata kepada ibuku “kebetulan nih, gimana ayo kita makan dulu yuk?” kata ku memandang semua orang disini, seakan setuju, tapi diam, ibu ku berkata lagi “kalo begitu, ayo Arya bantu ibu menyiapkan makanan” ibuku mengajak saya, kedapur. setelah saya setuju dan hampir bangun dari kursi ku, isabela lalu bangun lebih dulu, dan berkata “ya sudah biar aku saya, ibu boleh kan saya membantu?” istriku yang menghadap arah ibu ku, “ya tentu saya boleh” dengan tersenyum dimuka ibuku, isabela lalu menghampiri kearah ibuku dan siap kedapur, tapi maria yang juga bangun dari kursinya juga, yang bangun dari kursinya juga menghampiri mereka, “saya juga boleh membantu?” kepada keduanya, ibuku dan istriku, “wah makasih ya” kata istriku tanda itu boleh, tidak berapa lama ketiganya menuju kedapur, dimana saya yang tidak jadi iku memasak, anton dan johan yang tersisa diruang tamu ini. 

Makanan kali ini, lezat sekali karena kolaborasi tiga orang wanita hebat, dimanapun, dibogor, diarea perang selama masih ada salah satu dari mereka bertiga, atau cuma berdua maria dan isabela, yang memasak, saya tidak pernah menyisahkan secuilpun makanan dipiring saya. saya santap sampai habis. setelah masak didapur selesai, tadi semenjak proses masak-memasak juga, Rudi adiku ku, yang bangun dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi dan mandi. setelah mandi dan berpakaian, dia orang yang beruntung, 7 piring dsudah disiapkan, satunya untuknya, dan kami lalu makan bersama diruang tamu ini bersama-sama. dalam suasana makan kali ini, yang jarang saya rasakan lagi, sejak lama, bahkan ketika saya mengingat masa kecil saya saat makan bersama dirumah ini bersama keluarga saya, kehangatannya, kebersamaannya, itulah yang kurang saya rasakan lagi, semenjak kami sudah mulai beranjak dewasa, berakivitas masing-masing, hingga akhirnya saya keluar dari rumah ini menikah membina rumah tangga. saya tidak pernah merasakan suasana hangat seperti ini, kecuali dihari raya, itupun satu tahun sekali, saat ini, total sudah 5 hari kami semua berada disini, dengan ikhlas ibuku menyajikan makananya, untuk kami semua. kenapa suasana selama makan disini bersama begitu hangat dan selalu membuat suasana kami semuanya hangat, karena kami selalu bercanda, menceritakan apa saja soal apa saja disini, tentang diri kami semua, pengalaman kami, tentang apapun tentang objek, tempat, mall, jalanan, rumah makan, sampai sekolahan juga dibahas disini. kami bebas, saling berbicara masing-masing saat makan bersama, ya itulah yang membuat ruang tamu ini seakan hidup kembali, dan penuh canda dan tawa. kami juga selalu menghiasi saat makan kami kedepannya, meski sedang perang, dan berat, terlukannya kami, kami yang masih hidup disini, dan masih berjuang melawan penjajah bangsa kami, untuk soal makan, mengabaikan masalah yang berat, dan bercanda penuh dengan suka tawa…itu selalu wajib kami lakukan. tetapi sayangnya riang disaat makan kami tertunda beberapa detik, hingga akhirnya ibuku menaruh piringnya dimeja depannya, mengambil satu piring lagi. saya pun juga begitu, setelah ada suara ketukan dari pintu luar rumahku, setelah dibuka, adalah Tommy, yang sudah datang. setelah saya kirim pesan singkat beberapa waktu yang lalu. saya membuka pintunya, dan langsung menyambutnya “oh tommy…..” kataku menyambut dia, “ayo tom, masuk” kataku lagi membukakan pintu lebih lebar dan memperilahkannya masuk. setelah tommy masuk, dia tidak kaget melihat piring, piring ditahan ditangan kami masing-masing, dia mengerti kami sedang makan, tetapi untuk membiarkan suasana riang bertambah saya langsung menawarinya makan, “tom kamu sudah makan belum?” tanya ku, yang dijawab tommy dengan malu “belum…” dengan senyum kepada ku, “kalau begitu ayo gabung yuk..ayo makan dulu” kataku menambahkan. dengan inisiatif ibu, tanpa diduga-duga mengambil satu piring didapur, satu sendok dan satu garpu, tommy pun mengambil makanan dimeja tengah kami yang sudah disiapkan, ada satu piring mangkok besar bulat transparant, untuk menampung nasi goreng kami. lalu dia duduk disamping saya, disofa yang tadinya saya duduk bersama anton, cukup dengan dua orang, sekarang menjadi tiga, tommy duduk di tengahnya. anton pun mempersilahkan dengan senyum, saya rasa tommy dan anton cocok sekali, keduanya dalam hubungan jarang sekali bersitegang, tidak seperti hubungannya dengan johan. 

Riang kami dilanjutkan kembali, tommy ditanya sana-sini oleh maria, bahkan anakku lily berkata lucu “om kok ga pakai jaket” yang ditertawakan hangat oleh kami, terutama johan yang karekternya suka menyindir. ya memang penampilan tommy kali ini tidaklah kacau, seperti kemarin lalu, sekarang dia dengan rambut klimisnya, disisir belakang, memakai kemeja putih rapi, dengan kancing atasnya tidak di kancing dibiarkan terbuka, dan memakai jeans biru bagus, serta sepatu Kets warna merah, “wah anak muda sekali” pikir ku dalam hati. tetapi saya tidak lagi curiga penampilannya mungkin untuk menarik perhatian istriku, yang saat itu memakai kacamata, tidak seperti biasanya, jadi penampilannya disaat ini, tidak terlihat modis seperti hari sebelumnya, dia memakai baju kuning dengan bahan wol, serta rok berwana putih, agak panjang. istriku tidak menyukai rok mini, jadi tidak membiarkan siapapun melihat pahanya, itulah etika kesopanan wanita dari istriku isabela angelina. gadis berdarah batak, lembut, yang selalu bisa mengurus keluarganya, impian bagi para lelaki yang di kampusnya dulu, yang sampai saat ini, dengan berbagai tingkahnya, masih mengirim pesan singkat kepadanya di Handphonenya, meski dia tahu statusnya sudah menikah. ya itulah speeak bagi lelaki, yang bagiku itu belang, tetapi bagi istriku dengan kelembutannya, menghargai mereka, selalu membalas, kecuali pesan yang berbau kurang ajar, istriku hanya sekedar membalas. saya sudah pernah membahas soal ini, dirumah ku dulu, saat masih hidup aman tidak dijajah seperti ini, soal pesan-pesan dari mantan, atau teman kuliahnya, dulu, saya pun berkata “selama kamu masih milikku, utuh tanpa pernah menjadi milik orang lain, saya percaya padamu” kataku pernah mengatakan itu, saya pun memang agak kesal, bahkan pernah membaca pesannya, rata-rata untuk alasan bertemu kangen. trik istriku adalah tidak pernah untuk bertemu dengan mereka, karena, keinginan, mereka bisa menjadi buas, setelah melihat wujud istriku didepannya. memang kadang, istriku pun tidak pernah membalas pesannya, dan mengambang tertelan waktu. ya kurasa, setelah aku mengamatinya, orang-orang itu, jangka waktu dari pernikahan kami, 1 tahun setelah menikah dia berhubungan pesan dengan Frans, mantannya tapi juga tertelan waktu dan setia kepada ku. lalu 2 tahun berselang, tanpa pesan dari mantanya, tahun demi tahun, tetapi ada saja, entah darimana nomor ponsel istriku, mantan dan pemuja rahasianya, tanpa tahu malu, tetap mengirim pesan demi pesan. walaupun sering ada pesan yang tertulis begini “tolong ini rahasia saya, jangan beritahu suamimu aku mengirim pesan” intinya seperti itu, dengan kata modifikasi lainnya, intinya tetap satu, ya seperti itu. tetap saja istriku selalu memberitahukan kepada ku, maka dari itu tidak ada “PRIVASI” diantara kami, di ponsel kami berdua, boleh dilihat oleh kami masing-masing, tanpa rasa curiga, negatif dan rasa malu. itulah kami berdua, yang terus saling percaya satu sama lain.

Setelah makan enak kami pun, yang lelaki menyalakan rokok kami, didepan para wanita, termaksud ibuku. saya mengisapnya dengan dalam begitu juga yang lainnya. aku teringat saat saya berumur 14 tahun, dimana kedapatan merokok oleh ibuku, yang langsung menjewer kuping kanan ku didepan teman-teman ku. ya kejadian itu memang membuatku malu, tetapi setelah saat itu saya giat belajar dan akhirnya, mungkin pandai mencari uang. andai kata ibuku saat itu tidak mengatakan hal yang berguna untukku saat itu, “kamu masih kecil sudah merokok….” ibuku yang geram “kalau kamu bisa mencari uang, barulah kamu boleh merokok” katanya lagi “kamu tahu, apa itu rokok?…itu adalah membakar uang” ibuku memandang wajahku disaat itu, dengan saya memakai pakaian seragam Smp. ibuku melanjutkan omelannya lagi kepada ku “jadilah orang yang berguna, dan bisa membantu dirimu sendiri, juga orang-orang terdekatmu….” ibuku terdiam “janganlah kau menjadi beban buat hidup siapapun” katanya menutup. meski kecewa oleh kelakuan anaknya yang terpengaruh teman-temannya merokok, disudut jalan, disaat ibuku pulang dari pasar untuk belanja, dia menyeret saya sampai pulang kerumah. istilahnya seperti itu. tetapi dia tidak pernah memberitahu ayahku soal itu. dan satu hal lagi, meski rasa malu sudah tidak tertahan, lambat laun saya mengerti dan semakin mengerti apa yang dikatakan ibuku, bahwa saya harus menjadi seseorang yang berguna didunia ini, tidak akan menjadi beban bagi siapapun. itulah motivasi yang ku anut, dari hari ke waktu. semenjak mulai hari itu, saya berubah, saya memotivasi diri menjadi orang yang berguna. andaikan ibu ku tidak mengomeliku demi kebaikan, disaat itu, saya rasa tidak akan pernah seperti sekarang ini. rata-rata teman sekolah ku, dimasa sekarang, banyak yang menjadi pengangguran, kerja dibengkel, dan kalau beruntung kerja menjadi buruh dipabrik. keberuntunganku adalah mempunyai posisi wakin manager disebuah hotel dikota besar ini, ya itulah kisah dalam hidupku yang mendapatkan motivasi berguna oleh ibuku. dalam perokoan kami disini setelah selesai makan saya langsung mengutarakan maksud saya kepada tommy, yang dibalas heran, “apa keluar dari jakarta?” katanya, saya pun menjawab iya. dia malah bingung karena tidak punya mobil yang bisa mengantar kami semua, dia menyarankan untuk membujuk para tentangga lainnya dalam perbincangan kami ini, yang ternyata ide bagus. setelah kami habis merokok, saya, anton, johan, rudi dan tommy keluar dari rumah ibuku, untuk membujuk para tetangga, yang siapa tahu bisa meminjamkan mobilnya, kepada kami. tetapi semua tetangga yang kami telusuri, semuanya takut untuk keluar kejalan, karena situasi belum aman. hingga akhirnya pada satu kesimpulan, dimana kami menemukan ide yang tidak begitu bagus, dimana ada suami-istri, yang bergelut dibidang makanan, dia membuat makanan dirumahnya, dan mengirim pesanan makanan kelanggananan nya, kadang kantoran, di sekolahan, untuk para pekerja, mereka terima pesan antar makanan, dan sudah dibisnis ini lebih dari 12 tahun lamanya. bisnisnya bertambah maju, sekarang mereka mempunyai 2 mobil pengantar makanan. setelah saya melihat mobilnya yang luas untuk kami, cukup untuk menampung dus-dus makanan biasanya. saya punya ide untuk bertemu dengan pemiliknya, yang siapa tahu dia bisa mengatar kami kebogor.

Kami sudah mendekati halaman rumahnya, suasana hampir siang ini, pukul 11:27 tidak terasa mencekam seperti tadi malam. dimana ada sedikit pertempuran antara kelompok kecil pejuang dengan tentara asing. tommy bilang kepada ku tadi, dia sebenarnya keluar rumah nya setelah mendengar kejadian itu, dia berencana menyelinap untuk mengetahui apa yang terjadi tetapi dia lambat laun takut dan kembali kerumahnya lagi. saya sudah berada dipintu depan rumahnya, dan seketika kuketuk pintu rumah depannya. 2-3 ketukan, tapi tidak ada yang merespon membuka pintu dari dalam. ketika ada niat untuk ketukan keempat, tiba-tiba ada respon dari kunci yang dibuka, dari dalam, lalu setelah itu pintu pun terbuka, setengah, dan lelaki berkumis keluar melihat kami semua, dan bertanya dengan logat pelan. “ada apa?” dari logatnya yang saya tahu, lelaki itu dari Sumatera, dari kota Padang. tetangga yang memberitahukan pada saya tadi, “coba lah datang kerumah Uda” katanya, saya tahu itu panggilan khas orang padang, tetapi setelah saya melihatnya langsung, yang ternyata orangnya ramah ujung-ujungnya, membiarkan kami duduk di bangku-bangku luar, halaman rumahnya. serta memberikan kami minuman teh. layaknya seorang tamu yang berkunjung kami dilayani dengan baik. tetapi bukan ramah tamah seperti itu yang kami harapkan, tetapi untuk saat ini sekarang, kami berharap kepada uda. “uda maksud saya, untuk meminta bantuan?” kataku pelan, duduk disudut kanannya, diapit meja ditengahnya. uda yang melihat saya, pun membiarkan saya bicara. intinya beberapa menit kedapan kami sudah berbicara, dimana kami memberikan maksud kami. uda pun ragu, sama seperti tetangga lainnya awalnya. tetapi setelah kami bernegosiasi, dengan alot, tanpa kekerasan. uda yang menyalakan rokoknya, memikirkan soal itu, bukan berati dia sudah setuju atas usul kami. “apakah aman disana?” katanya udah kepada ku, soal situasi dibogor, aku menjawab soal ini. seperti yang sudah pernah kami bahas sebelumnya. saya beroptimis, dan sedikit bohong, seolah itu aman, dan mengatakan “pasti aman uda” meski bohong, saya berharap respon dari uda. lambat laun, udah mulai melunak, dan dia akhirnya mengizinkan tapi dengan satu syarat, dia harus ikut, bukan karena dia ingin bersama kami, melainkan ingin menjenguk ibu istrinya yang juga tinggal dibogor. memang kebetulan sekali, uda dan istrinya berencana akan kebogor minggu-minggu ini, karena ibu istrinya sedang sakit. tetapi hal ini selalu tertunda karena penjajahan sudah mulai terjadi. tapi hal ini akhirnya menjadi keberuntungan buat kami. saya yang memberitahukan soal rute jalan tadi, ditengah perbincangan, serta jalan mana yang akan dilewati, akhir kesimpulan negosiasi ini yang berjalan awet, hampir setengah jam itu sudah menjadi jelas, kami semua diijinkan pergi menaiki mobil uda. 

Kami pun lega setelah pulang dari rumah uda dan kembali kerumah ku, dimana kami membertitahukan soal ini kepada semuanya. istri, anakku dan juga maria itu setuju.tetapi ada masalah kedepannya yaitu, ibuku dan ayahku, tidak mau meninggalkan rumah ini. memang rumah masa kecilku ini terbilang cukup tua, ya mungkin lebih dari 26 tahu kami sudah tetap disini, ibu dan ayahku, adalah salah satu penghuni terlama didaerah komplek perumahan ini. biar bagaimanapun, lingkungan rumah ini telah, menjadi kehidupan bagi ayah dan ibuku. maka dari itu, saat, saya berbicara dengan ibu ku. raut muka tidak mau meninggalkan rumah ini begitu terasa. untuk masalah ini saya tidak mau membahas didepan orang banyak. sampai pukul 19:00 malam, ibuku yang menyuapi ayahku dikamarnya. saya yang masuk kedalam kamar itu, mengambil kursi berencana berbicara langsung dengan ibuku. ayahku sekarang dalam kondisi lumayan baik dan duduk diranjangnya. pengobatan terhadap ayahku, lumayan membuat ia sembuh. tetapi karena tidak ada ruang privasi lagi karena banyaknya orang diluar kamar ini, yang masih melek, saya pun tidak bisa menyuruh ibuku bangun tengah malam, dan berbicara tentang masalah ini. jadi saya pun terpaksa angkat bicara “bu..” dan langsung terdiam, lalu ibuku menjawab “iya  anakku?” yang duduk ditepi ranjang, samping ayahku. saya melihat muka ayahku, yang sangat tidak tega untuk membahas soal ini didepannya. tetapi karena mau tidak mau, saya terpaksa membicarakan soal ini. intinya soal kepergian dari rumah ini. dari hasil dari pembicaraan kami disini, ayah dan ibuku tetap tinggal. saya yang terus membujuk, tetapi ibuku tetap dengan pendiriannya. saat saya berbicara, lambat laun ayahku mulai terlelap kembali dengan tidurnya. 3 butir obat, membuatnya ngantuk dan cepat lelap. setelah itu ibuku memandangiku, seolah itu ide yang kurang bagus, karena faktor usia, dimana ia nantinya menetap? apakah ada tempat yang bagus untuk bersembunyi? saya pun yang tidak bisa memberitahukan soal itu, karena saya pun tidak tahu suasana disana? maka dari itu saya memberhentikan bujukan saya, memeluknya, dan berharap ibu dan ayahku mempertimbangkan, tetapi sampai saat saya dan lainnya pergi dengan mobil uda, menuju kebogor. saya, istriku dan anakku, juga lainnya. terpaksa meninggalkan ibuku, ayahku dan rudi ditempat ini. karena saya juga tidak mau adiku terjadi apa-apa nantinya dijalan, saya pun bersumpah atas apapun, tidak akan pernah membiarkan keluargaku menjadi korban tentara penjajah. maka dari itu, 3 hari dari sekarang kami sudah berkemas, dan terpaksa meninggalkan semuanya disini, termaksud keluargaku. meski rela melepas kepergian saya, ayah dan ibuku, juga adikku, tetapi raut cemas dan harapan semoga nanti bisa bertemu kembali, itu ada dibenak mereka. jujur saya pun tidak mau lepas dari mereka, disituasi gawat seperti ini. tetapi demi keamanan kami, kami harus melakukannya. saya tidak mengerti mengapa saya harus pergi dari rumah ini? saya rasa rumah ini bisa melindungi kami untuk waktu yang lama? tetapi penjajahan ini, juga aturan ketat yang mulai berlaku dikota besar ini, membuat ku cemas dimasa depan. maka dari itu kami harus bergerak, mencari tempat aman dan berlindung disana…dikota Bogor.

Ditulis Oleh: Wildan Renaldi

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pendekar Revolusi Part 12

  1. Fendi haris berkata:

    semga tempat itu menjadi yang terbaik gan,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s