Become The Star Bagian Tiga

Perjalanan kami diliputi dengan cerita yang sama berulang-ulang setiap hari, dengan mengamen dan mengamen untuk mencari nafkah. tetapi tawaran dari mbak dewi membuat saya semangat terutama, kami jarang untuk masuk di studio, bermain musik. kami tidak punya teman yang sepaham, kecuali saya dengan adik saya, yang keduanya menyukai musik, jenis apapun juga itu. tak banyak teman di kampung kami, menyukai musik, yang rata-rata dengan paras perempuan cantik yang selalu memburu mereka, kecuali Malik, remaja masjid yang kadang bernyanyi bersama kami, menghargai kami, biasanya di belakang jauh dari rumah kami, yang terdapat sebuah tanah merah, lapangan sepakbola, tetapi untuk serius dia “Nothing” maaf apa yang diharapkan dari remaja lulusan pesantren, bukan menghina visi mereka tak jauh dari religius, tetapi kami lebih “FREE” dalam berideology, tak peduli apa anggapan orang tentang kami.

Dengan pakaian, bukan kostum layaknya pengamen jam 11 ini, sudah sampai diterminal, sekali lagi seperti biasa mengamen di metromini terlebih dahulu, itu seperti ritual bagi saya, dan dani, adik ku. kadang 5000 bisa dapat di metromini tempat mengantar saya keterminal ini, diblok m, seperti hari biasa nya pula, penuh dengan orang, asing, bagi saya, karena tidak saling kenal, dengan berpakaian berbeda-beda, lelaki maupun perempuan. saat saya duduk dibangku terminal sana, menunggu metromini menuju ke tempat lain, lalu kami mengamen, ya kami sudah rencanakan hal ini, saya melihat orang-orang itu dengan mata seksama, masing-masing. dan ternyata semuanya sama, manusia adalah sama, meski pakaian, warna kulit, berbeda, ya mereka tetap bisa berjalan, mempunyai perasaan,  dikala wanita berpakaian ungu lewat dekat kenek yang berteriak, dia mengeluarkan mimik yang kurang suka, mungkin karena suaranya yang keras, ya itu tandanya wanita itu punya perasaan. begitu juga dengan lainnya, saya telah melihat satu persatu, sampai adik ku “membangunkan aku” untuk bergegas maju. “ayo kak jangan bengong” kata nya dan kami pun langsung bergegas, melanjutkan mencari nafkah kami.

Ardhy Jam 11 Siang

“Halo apa kabar” ardhy menyapa lelaki tua yang sedang ingin masuk kedalam toilet dimana ia sudah keluar dari sana, lelaki itu melihat ardhy dan menyapa juga “hey, kamu kan yang dibagian itu kan?” katanya dengan tersenyum, lelaki itu yang beruban putih banyak diseluruh kepala melihat ardhy apa adanya. “ya” ardhy menjawab “bapak kan yang dibagian, editor kan?” jujur ardhy “iya benar….hmmm kalo gak salah kamu ardhy kan?” tanyanya “iya pak saya dibagian artikel, yang membuat artikel remaja” jawab ardhy lagi “iya..ya saya tahu kamu” tersenyum lagi kepadanya “kalo begitu saya kekamar mandi dulu ya” jawab bapak tua itu, dan tanpa sadar ardhy menghalangi langkahnya, yang langsung minggir ke arah kiri, “maaf pak” dia berkata saat sudah ke sisi kiri, meminta izin melanjutkan kerja dengan bahasa tubuhnya, dan ardhy pun mulai berjalan menuju arah meja kerjanya, saat ia ingin meninggalkan bapak tua itu, bapak tua itu memanggil dari jarak yang belum jauh, “ardhy” memanggil ardhy yang langsung berhenti da memutar badan kearah lelaki tua itu, “nanti siang, temui aku di kantin bawah, saya ingin berbicara dengan kamu” ardhy yang kaget sekaligus heran dengan perkataan lelaki tua itu, langsung mendongkak kepalanya melihat nya, mengerti ucapannya, dengan menunduk lagi ardhy berkata “iya pak” jawab nya, setelah itu lelaki tua itu berkata “oke” dan berbalik arah masuk kamar mandi, tetapi ardhy yang tidak mengerti kenapa dia ingin bertemu dengan nya dikantin bawah, membuat nya diam seakan tidak bergerak.

Susan Jam 11 Siang

Sruput minuman dingin dimeja kantin dimana susan seorang diri sedang membaca pelajaran yang dibacanya, tiba-tiba seorang teman nya datang, dia bernama Dian, menyapa “hey sus” katanya menghampirinya, susan yang sedang konsentrasi tak sadar dia sudah mendekatinya dan duduk disebelahnya, katanya lagi “siap-siap nih?” tanya nya, “iya” susan melihat wajah dian sambil tersenyum. seperti yang ditahu, susan adalah wanita yang kurang, populer dikampus, kesuakaannya terhadap sesuatu yang dibilang jauh dari umum, tak salah temannya pun agak kurang dibandingkan wanita kampus pada umumnya. susan suka menyendiri, kadang dilapangan basket melihat pangerannya yang ia tidak pernah sapa, bersama teman nya susan melihat nya dari kejauhan. Andika, remaja tulen, pintar dan banyak teman, tetapi sederhana, mempunyai paras ganteng, tetapi nasibnya kurang bijaksana. susan kadang memikirkan dia, jatuh cinta dan berkhayal kepernikahan, tetapi bukan didunia nyata. dian adalah remaja umur 18 tahunan, seangkatan dengan susan, tetapi menjelang akhir semester, dia sudah berpacaran dengan seniornya. karena iba atau apa? mungkin dian seperti susan dahulunya, hanya dian yang menemaninya. kebanyakan temannya susan adalah “Kutu Buku” diluar sana hanya sekedar menyapa sahaja. dian yang memakai kemeja merah dan jeans biru, disaat itu juga berbincang ria dengan susan, sampai akhirnya dipotong oleh Jessica dan kawan-kawannya, 3 orang yang melewati kantin juga, dian tahu dia akan kearah sini, tentunya mereka tidak akan bergabung dengan susan dan dian, mereka kekantin keluar dari ruangan belajarnya, dengan alasan yang dibuat-buat. layaknya orang kaya dan wanita kaya, 3 orang itu akhirnya melewati dian dan susan, yang disaat ini melihat mereka penuh benci “yang satu aneh, yang satu nurut” tertawa itulah perkataan Jessica, saat melewati dian dan susan, tetapi keduanya hanya diam, susan pun tertunduk, tetapi dian melihat mereka penuh nafsu. ketiga orang itu jesica,dkk sudah sampai keujung depan kantin berbicara dengan pegawai kantin kampus ini, mereka memesan makanan.

Dikantin kampus yang luas itu dengan deretan makanan kios berjejer, menunya pun beragam serta harganya, masing-masing. disuatu sudut kiri,  ada yang menjajahkan makanan luar, hamburger, es jus yang enak, memang favorit para orang kampus, tetapi disaat ini jam 11, dikantin ini, hanya terlihat beberapa orang saja, yang ada disini, susan, dian, 3 orang rombongan jesica, dan beberapa anak kampus duduk dideretan meja makan bundar yang disediakan di tengah-tengah ruangan, untuk para mahasiswa/i makan, minum, berbincang disana, ada kira-kira 20 meja diruangan kantin ini, dan satu meja 4 kursi, seakan melingkar layaknya meja bundar. atap ruangan ini bercat putih, karena diatas ruangan ini, adalah kelas kampus. kantin ini terbuka tetapi beratap tidak berkaca sisi kiri dan kanannya, jadi orang bisa melewati dan memesan makanan lewat mana saja untuk kedalam area kantin ini, lebar dan luas ya tempat para mahaswa/i berkumpul. dalam kasus penyindirian susan dan dian, seharusnya jesica dan kawan-kawannya, bisa saja melewati tengah, atau jauh dari posisi duduk, susan dan dian, tetapi kenapa yach mereka malah melewati 2 orang itu, sentimen, ya itu jawabannya, mencari gara-gara, memancing emosi, tetapi keduanya tahan, tidak mau ada keributan, yang pernah mereka alami sebelumnya. tetapi jesica tetap saja memancing mereka, meski teguran dari dosen, tertuju kepada mereka, mungkin bagi beberapa anak kampus, tetapi tidak bagi dosen. ya itu tidak jadi masalah kok, bapak jesica penyumbang terbesar kampus ini, so itulah kenyataannya. kadang susan meminta tolong untuk damai, tetapi disambut dengan tertawaan dari mereka. maka dari itu susan hanya bisa terdiam. 

Kembali Ke Ardhy

Jam 12:12, kira-kira sekitar itu, jam didinding kanti kantor, ya ardhy yang dengan kemeja biru, bercelana kain hitam, bersepatu hitam, tanpa dasi, baju kemeja dimasukan rapi diapit gesper, ketat. rambut klimis, dia mendatangi Pak Nana seorang pria tua yang ditemuinya di toilet tadi. pak nana sedang duduk bersama dengan dua rekannya, berbincang, lalu melihat ardhy datang, yang langsung berbicara, kepada nana, “maaf pak menggangu” ardhy lembut “saya kesini karena tadi bapak menyuruh datang kesini” penyataan ardhy lagi, dan langsung dijawab oleh nana “oiya, ardhy kan, duduk lah” menyuruh ardhy untuk duduk bersama 2 teman lainnya. meja kota kecil yang cukup untuk 4 orang, dimana hanya ditempati 3 orang, salah satunya yang kosong diduduki ardhy, yang langsung terdiam, merasa terabaikan karena nana malah berbicara dan kedua teman lelakinya, dikiri dan dikanannya. ardhy memperhatikan mereka, kadang menunduk, hampir lima menit lalu mereka pergi dan kedua orang tersisa nana dan ardhy berbicara nantinya. “kopi, teh?” nana bertanya kepada ardhy setelah kedua temannya sudah meninggalkan meja ini dan bisa langsung berbicara atas keduanya. “ardhy…” saat nana sudah merapatkan diri dikursinya fokus dengan ardhy yang duduk sopan didepannya, “bagaimana pekerjaan kamu” tanya nana, dan dijawab ardhy “baik pak, beberapa sudah beres” kata ardhy yang merasa deg-degan. mungkinkan dia dipanggil karena masalah pekerjaaannya? “tenang dulu yach” nana mengeluarkan Handphone nya yang berbunyi didalam kantong kemajanya, dan menjawab dan ardhy kedua kali harus menunggu lagi. untungnya, pembicaraan ditelepon hanya sebentar, setelah ditutup dan dimasukan lagi dikantongnya, nana berkata “biasalah anak-anak, maaf ya” menjelaskan kepada ardhy “iya pak” jawab ardhy simpel. “begini ardhy” nana merapatkan, dan memajukan badannya ke depan meja, supaya suaranya jelas ketelinga ardhy “saya minta tolong kepada kamu nih” pertanyaan langsung dari nana, “soal masalah musik, kamu kan suka musik kan?” tanya lagi, tetapi ardhy diam dan berpikir, lalu menjawab “maaf pak, iya saya suka musik” jawaban ardhy yang seakan gemetaran “begini dhy” kan sebentar lagi 17 agustus kan, “tahukan maksudnya” tetapi ardhy tidak paham “kan di digelar acara musik, tahukan acara buat senang-senang saja” nana berkata “majalah kita ya bisa dibilang jadi salah satu sponsor, diacara musik itu, 3 orang dari kita sudah siap untuk manggung istilahnya, tetapi kurang bass” arahnya mulai kelihatan “saya tanya-tanya kemana-mana bass itu susah dimainkan, kecuali kamu, yang katanya bisa, benar begitu dhy?” tanya nana ke ardhy, yang langsung tersenyum kepada nana, tetapi nana masih dengan mimik serius, “iya pak, tentu saya bisa” seakan antusias. “bagus lah kalau begitu, kamu bisa kan ngeband?” tanya nana lagi “iya pak, saya bisa, pasti saya bisa” dan langsung membuat nana tersenyum juga “kalau begitu baguslah, kamu orang yang aku cari-cari” sambil bernafas lega yang membuat posisi duduk nana menjadi menyender lagi kekursinya.

Suasana terdiam sebentar sampai ardhy bertanya kepada nana “maaf pak, kalau boleh tahu acara musik apa?” ardhy bertanya, “oh itu festival dhy, bukan lomba, tetapi kamu mewakili majalah ini, untuk unjuk gigi lah” jawaban yang membuat tambah dimengerti ardhy “iya pak saya mengerti, bapak meminta saya untuk manggung” jawab ardhy “iya benar, kamu cepat mengerti, nanti kamu bersama 3 orang lainnya, yang kami sudah pinta juga untuk manggung juga” jawabnya “kalau boleh tahu siapa 3 orang itu pak?” tanya ardhy “oh itu Rahmad, Anto dan Yono, tahukan mereka?” nana menjelaskan “iya pak, saya tahu mereka” jawab ardhy “bagus” nana berkata “kapan pak, maksud saya acaranya?” adrhy bertanya “itu seminggu lagi, jadi intinya nanti kamu berempat tolong kumpul dan latihan, lagu sudah disusun dari sini, kalian tinggal bawakan saja” nana menjelaskan “lagunya apa pak?” ardhy si tukang bertanya, tetapi nana yang harusnya sedang sibuk diwaktu ini, tidak kesal hanya merasa buang waktu saja “oh soal itu nanti kamu tanya-tanya saja sama teman-teman kamu, nanti sore kamu sudah dipertemukan oleh mereka” katanya “sekarang saya maaf harus pergi dulu, ada urusan yang harus dikerjakan” nana yang langsung berdiri dari kursinya, dan langsung dibalas dengan ardhy yang juga berdiri. nana menyalaminya, dan ardhy membalasnya juga. “oke itu saja ya dhy” nana berkata lagi, dia pun sudah mulai bergerak untuk pergi, tetapi berkata lagi, “oiya dhy nanti sore, ngumpul ya di ruang saya, oke dhy” bertanya kepada ardhy yang langsung menunduk kepalanya berkata iya. lalu nana meninggalkan ardhy di meja kantin itu dan ardhy pun memandanginya berjalan. sebenarnya festival musik itu hanya kedok, perusahaan saingan majalah ini yang juga sponsor ingin unjuk gigi, ini adalah upaya menaikan pamor nama majalah ini, tidak penting apakah itu, ardhy hanya menjadi pionnya saja.

Kembali Ke Susan

Rambut jesica dijenggut oleh dian yang emosi, dan langkah kaki bergerak dari susan untuk melerai, begitu juga orang yang lainnya, yang ada di ruang kantin itu. para penjaga kantin keluar dari kiosnya. “ahhh” teriak jesica yang kesakitan, bangun membela dirinya, mendorong dian dan menendangnya, 2 teman lain nya pun sudah disisi dian dan ikut memukulnya, tetapi anak kampus lainnya, yang sebelum nya duduk berbincang-bincang di kantin ini, menahan mereka, 1 teman jesica berhasil dicegah, tidak 1 lainnya, berhasil malah menjenggut rambut dian, situasi berbalik, tetapi susan membantunya, menahan badannya, yang penuh nafsu seakan membunuh. untungnya ada salah satu, dosen yang sedang berada disekitar kantin itu, berlari karena mendengar kesakitan, ya itu suara jesica, dian, dan 2 temannya, begitu juga yang lainnya memisahkan. dosen itu langsung berdiri di tengah mereka dan berteriak: “Diam..!!!” katanya langsung membuat semuanya diam “Apa apaan sih kalian?” membentak mereka semua yang berkelahi “kalian sudah besar, masih seperti anak kecil!!!……..diam kamu semua……duduk!!!” perkataan dosen yang melerai tadi membuat suasana jadi hening, dan jesica pun sudah mulai duduk, saat dosen itu duduk, mengambil bangku, dan berteriak lagi “kalian ini!!!…….ada apa sih ini?” langsung membuat jesica tertunduk, tetapi bukan dian yang masih berdiri “ini dia pak…” dian menjelaskan dan lalu dibentak “diam kamu, juga duduk” akhirnya semua orang yang masih berdiri, mendengar bentakan dosen itu, seolah nurut dan mulai duduk, disembarang tempat, termaksud penjaga kios makanan kantin yang ikut melerai. mata penasaran dari dalam kantin masih curiga mencari apa yang terjadi, orang-orang kampus yang tadinya tidak ada di sekitar kantin berlarian, kearah sini, pelan, mencari tahu letak keributan itu. “kamu jelaskan” kata dosen itu, kepada dian, lalu dia yang mulai tenang berbicara lagi “itu loh pak, jesica ini bicara kotor, kasar, tanya saja susan” lalu melihat temannya susan “benar kan san?” lalu susan menangguk pelan “iya pak” lalu menunduk kepalanya, kearah lantai. tetapi jesica dan kawan-kawan malah ribut, membela dirinya yang sudah salah, suasana menjadi ribut kembali, “diam kamu!!!” bentak dosen lagi, tidak berapa lama setelah dosen itu memandang wajah rival per rival antara jesica dkk dan dian/susan, dia melanjutkan bicara kembali “memang dia berkata apa sama kamu?” menunjuk jesica yang membuang mukanya, lalu dia menjelaskan begini “tadi saya lagi duduk berdua dengan susan, tapi jesica malah, cari gara-gara” dian menjelaskan dan dipotong oleh dosen itu “oke…oke…tapi kenapa kamu bisa berkelahi?” dian pun menjelaskan langsung ke intinya, “jesica tadi menyindir saya, katanya, cewek simpanan, pecun pelacur lah…!!!” jawabnya “oh ke kampus juga buat jual diri ya” katanya dian lagi “makannya saya marah pak, dibilang begitu. saya langsung jenggut tu cewek, emang dari dulu tuh biang rese!!!” dian yang matanya menuju ke jesica dkk, lalu disambut ribut kembali oleh ketiganya “elo tu yang rese” salah satunya berkata begitu, bahkan ada yang berdiri ingin melawan, mungkin ingin menjambak rambut dian. 

Sang dosen yang tiba-tiba menjadi kalem, kali ini tidak membentak, malah menyodorkan tangan kanannya, tanda stop berhenti kepada jesica dkk. “kalian bertiga diam dulu ya” kata si dosen melihat ketiganya, saat sang dosen ingin berkata kepada jesica dkk, tiba-tiba ada 2 dosen yang datang, kearah kantin, berjalan cepat langsung berada ketempat ini sekarang. saat mereka datang mereka langsung berkata “ada apa nih, ada apa nih?” dosen yang melerai itu, yang sedang duduk, lalu berdiri dan berkata kepada mereka “ini mereka ribut” katanya, salah satu dosen yang baru datang berkata kepadanya “memang ada apa pak?” dan dijawab, “sudah jangan ribut disini, kalian semua (maksudnya jesica dkk dan dian/susan…ikut saya ke kantor, sekarang juga” dosen itu tegas. tak lama 5 orang yang terlibat keributan, akhirnya pergi dari kantin, menuju ke ruang kantor dosen, dimana kelimanya di tanyai macam-macam. 

Besoknya hasil dari kesimpulan ini sudah tertebak, karena penyumbang terbesar…..dian diskoring 2 minggu, susan bebas dari hukuman karena tidak melawan, jesica dan kawan-kawannya hanya mendapat teguran, boleh tetap kuliah, tetapi dikirimi surat keorang tuanya masing-masing. ada gosip jesica dihukum, dirumahnya tanpa internet, hp, laptop, tablet dan televisi, dll…elektronik no way. karena orang tuanya geram anaknya sering membuat masalah dikampus, mungkin sudah 3 kali teguran, mungkin juga lebih. 2 teman jesica tidak diceritakan, disini, semua orang tua punya hukuman masing-masing terhadap anaknya yang bersalah dan membuat malu. tetapi susan intinya kelilangan dian pelindungnya. lalu apa yang terjadi dengan susan nantinya, saat dian tidak ada disisinya? apakah jesica dkk malah tambah benci terhadap susan? nantikan cerita berikutnya.

Kembali Ke Rudy Dan Dany

“Mengamen hari ini untung besar, ya karena hari ini kan hari baik” kata dani dalam hati. 90ribu, sangatlah besar bagi mereka berdua. 90 ribu, itu banyak biasanya kan 25, atau 35, kadang 40, 50 ribu kalau beruntung tidak pernah sampai mendapat segitu, apalagi keduanya kan, setengah hari, sampai jam berapakah mereka mengamen dijalan, bus? mungkin 3, 4 jam, ternyata targetnya pun berubah jadi baik setelah mobil mercy hitam, membuka pintunya, memberikan 50 ribu kepadanya, tidak masuk akal kah? tetapi terjadi, ya itu adalah plat merah, tidak tahu siapa didalamnya? situasi berubah karena rudy kecapean untuk naik bus, ke bus, “jadi ngamen aja dijalan ini” saat dilampu merah yang pada, kedua adik beradik itu mengamen dengan pasrah dan penuh cinta, segala kendaraan dia datangi, untuk dimintai uang, tidak peduli, penampilan mereka, ada petugaskah yang mengusir. mereka berduet dengan pengamen yang tidak saling kenal, gitar dan bungkusan permen, cekrekan untuk menambah irama, mereka berdua membuat jalanan yang padat karena macet itu seakaan terhibur, walau para pengendara tidak ada yang peduli dengan mereka, atau nyanyian mereka. mereka terus mengamen. sampai ada mobil berplat merah, mercy bagus hitam pekat, dia mengamen di kaca belakang, penuh harapan, tidak menyangkah, kaca mobil belakang dibuka dan tangan kanan beserta uang 50 ribu memberikan kepada 2 kakak, beradik ini. oh betapa beruntungnya mereka.

Rudi dan dani langsung menunduk, berkata “terima kasih pak…terima kasih pak” berulang-ulang kaget tidak pernah ada satu orang langsung memberika jatah uang 50 ribu…wow 50 ribu bagi mereka itu sangatlah besar. saat lampu merah berubah menjadi hijau, rudy dan dany belum beranjak dari sana, masih tetap melihat kedalam kaca yang tidak tertembus orangnya. mungkin sekitar 30 detik dia berterima kasih, ya itulah mereka. dan mereka pun sadar pemberi nafkah besar, mobil berplat merah itu sudah berangkat ke jalanan lagi, tidak sadar klakson dari mobil belakang dibunyikan, dan keduanya pun menyingkir dari jalan ketrotoar. setelah disana dani berkata “kak, kakak saja yang simpan, takut dicopet, jangan taruh di plastik uang…taruh aja di dompet kakak saja” dani memegang uang 50 ribu itu dan meyerahkannya kepada kakanya rudi sanderos, rudi pun mengangguk, membuka dompet dari kantong belakang dan menaruhnya penuh hati-hati seakan harta karun. “ya hari itu adalah keberuntungan bagi kami” kata dani dalam suatu wawancara dengan wartawan majalah Rolling Stones Indonesia “hari itu jauh dari hari ini, dimana kami bisa memberi, bukan meminta, tuhan maha baik, dan beginilah kami sekarang” tambah dani lagi kepada wartawan yang bertanya tentang hidupnya dimasa lalu.

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s