Become The Star Bagian Dua

Become The Star Bagian Dua, Inilah Kehidupan Kami

Suara bising sudah terdengar, dijalan-jalan ibukota, saat saya dan adik ku sudah sampai di ujung gang menuju rumahku. setelah mengamen dari siang ini jam 18:45 saat ini kami berdua memutuskan untuk pulang kerumah,tidak seperti biasanya hari ini, yang biasanya kami pulang sampai jam 8:30 atau 9 malam, karena badan kami hari ini rasanya capek sekali. kami sudah turun dari metromini dan langsung menuju masuk ke gang. jalan gang menuju rumah kami seperti biasanya pula dimalam hari remang-remang dan kotor bagian kiri dan kanan jalannya. tempatnya juga sempit, tetapi saya juga binggung kenapa masih bisa dimasuki mobil yang lewat, saat kami meminggir kekiri, deru mobil kijang silver lewat didepan kami. kami berjalan lagi melihat sekitar, orang-orang yang sudah lebih dari 14  tahun daerah ini sudah kami tinggali, maka dari itu kami mengenal banyak orang disini, termaksud Psk yang menjajahkan diri keluar dari gang ini menuju tempat mangkalnya, ya 2 psk itu bernama Sri dan Wati, gadis usia baya 26-27 teman mengaji ku masih kecil, yangmengadu nasib didunia hitam, pemuas lelaki.

“Rudi, Rudi sini” sri memanggil saya di ujung kanan jalan, saya melihatnya dan menghampirinya, sedangkan dani adik ku, tetap di tempatnya memegang gitarnya, melihat 2 wanita itu juga, di tersenyum saat melihatnya. setelah sampai di tempat 2 wanita itu berhenti memanggil saya, saya tanya oleh sri “eh rudi baru pulang ya?” tanyanya, aku menjawab “iya bak” jawabku dengan sopan, karena sri dan wati lebih tua dari pada ku yang 18 tahun. aku juga bertanya kepadanya “biasa nih bak” lalu sri menjawab “iya nih..” sopan “kamu punya korek?” tanyanya lagi, “korek bak?” menjawab “iya korek” tambah sri bertanya kepada ku, “oiya tunggu ini ada” sambil merogoh ke bagian kantong celana panjang ku, tetapi aku tidak menemukannya, lalu aku teringgat kepada dani, ya dia yang terakhir merokok, meminjam korek ku, aku panggil dia, dan dani menuju kearah kami yang sedang berdiri di sini. disaat dani berjalan kesini, saya berteriak kepadanya “dan, tadi korek mana?” mendengar pertanyaan ku, dani yang tadi memegang gitarnya dengan tanggan kanan, langsung di arah kan ke tangan kiri, lalu tangan kanannya merogoh kantong di sisi kanan celananya dan mengeluarkan korek gas untuk merokok kehadapan ku.

“Itu bak sri,” kataku, sambil melihat ke sri dan tersenyum, dani yang ramah langsung mengarahkan tangan kanannya yang tadi kearah ku, langsung kekirinya dimana sri berada “ini loh mbak” dengan sopan dan senyum. sri yang ditawari korek langsung mengambil dan berkata “makasih ya, aduh aku lupa bawa korek ku tadi,” sambil membuka tasnya dan membuka rokok, teman yang satunya pun melihatnya, tetapi wati hanya terdiam saya. dinyalakan rokok itu setelah ujung rokok di mulutnya dan korek tadi menjadi penyulut penghisapnya “rokok wat” menawarkan kesebelahnya, wati mejawab “boleh” lalu sri menyerahkan bungkus rokoknya kepadanya dengan korek digabung dengan rokok. intinya kami dipanggil adalah, sri menawarkan sesuatu untuk saya dan dani. setelah berbasa-basi baru kepokoknya sri mejelaskan begini “tadi kamu ngamennya? padahal tadi aku udah telepon kamu, tapi gak aktif” sri panjang lebar, setelah katanya selesai dan sri yang berkata melihat ku, aku lalu menjawab “iya bak, tadi keluar sama dani” melihat dani di samping ku, “iya bak memang kenapa nih?” langsung keintinya. sebenarnya aku jujur ingin langsung pulang dan tidur, tetapi karena dipanggil sri dan wati saya menghargai saja, maka dari itu saya langsung menjawab”memang kenapa?” dengan logat pelan, sri lalu berkata lagi “aku ada perlu sama kamu” jawabnya, yang langsung berpikiran negatif dipikiran ku “perlu apa yach” dalam hati, aku menjawab kepada sri “apa perlu apa mbak?” melihat wajahnya jelas, “gini rud, aku minta bantuan sama kamu berdua” katanya lagi “itu teman ku mau rekaman, tapi gak punya band, suaranya bagus, tapi dia butuh orang, tahu tuh katanya yang bisa maen musik” sri menjelaskan “dia mau rekaman demo” menjelaskan lagi “teman mbak?” aku bertanya kepadanya lagi “iya kamu kenal kan, yang orangnya agak tinggi, itukan mau rekaman” mejelaskan lagi “oh teman mbak yang itu” aku menjawab sambil mengingat orangnya, walaupun tidak kenal nama, aku sudah pernah kok dikenalkan oleh mbak sri dan sempat ngobrol-ngobrol di warung.

Namanya kalau tidak salah Albert atau alferd? saya tidak ingat, tetapi dia ramah kok, dia itu pacar dari adiknya mbak sri, yaitu Wulan. “memang dia mau rekaman mbak, terus minta bantuan saya gitu mbak?’ aku bertanya kepada sri, “iya kamu kan bisa nyanyi suara kamu bagus, adik kamu juga jago ngegitar, nah dia mau rekamannya semingu lagi, makannya aku tadi miss call kamu gak diangkat-angkat” sri menjelskan lagi “aduh maaf toh mbak, aku baru ganti kartu, kemaren kartu ku eror, maaf yah bak” aku menjelaskan sedikit menyesal “gak papa kok, nomor kamu berapa?” sri bertanya lagi, mengeluarka Handphone nya dari tasnya untunk menyimpan nomor baruku, aku juga mengeluarkan HP kuno ku, dijaman 2008, jujur hp ku yang berawalan merek “N” dam belakang “A” sangat jauh teknologinya dari pada orang normalnya, bagi ku untuk sms dan telepon, itupun kalau ada pulsa itu juga sudah cukup. saya pun mengucapkan nomor ku “0812739…..” kepada sri dan sri mensave nomor ku. saya dan dani pun langsung deal, layaknya seorang pemusik, yang kali tanpa perantara dari manager, saya pun tidak berpikir seperti itu, kami pun di janjikan uang, mbak sri tidak menyebutkan berapa, tetapi ada. bukan itu yang sebenarnya kami cari, tetapi di studio, membantu orang rekaman, saya sendiri yang bermain gitar dan adik ku, juga main gitar, mau tidak mau begitu, tergantung apa yang dimau nya nanti, menjadi backing vokal, semoga tenaga saya dibutuhkan, itulah yang membuat saya langsung antusias sekali dan senang mendengarnya, andaikata tidak dibayar dengan uang saya pun rela, dan kesempatan bermain di studio untuk kami berdua pun tiba.

Saya melanjutkan perjalanan setelah selesai berbicara dengan sri dan wati. tubuhku yang pegal ingin segera kurebahkan di ranjangku.  tetapi sebelum kupulang, seperti biasa, saya yang selalu melewati salah satu rumah, yang tidak jauh dari rumah ku. rumah berwana putih, bercat pagar hitam, layaknya rumah hunian, tetapi tidak terlalu besar, dengan satu jalanan garasi, dan mobil yang bisa dimasuki mobil di garasinya. rumah itu adalah rumah Seruni. anak mantan ketua rt ini, yang selalu kucinta dalam hati. meski tidak ada kesempatan bertemu, berbicara, mengajak kencan, karena saya menyadari diri sendiri siapakah rudi sanderos ini, soal strata, dan kasta yang jauh dibandingan solo keraton kental bapaknya, yang mungkin memilih-milih pasangan untuk ananknya, saya pun tidak masuk dalam listnya. maka dari itu saya cuma bisa memandangi halaman rumahnya, kaca jendela menembus sedikit dalam rumahnya, tempat duduk di terasnya, , dan membayangkan bisa duduk disana diteras rumahnya bercanda gurau, bersama seruni. oh seruni dalam hati, adikku dani pernah berkata, dulu “kak kenapa sih kalo lewat rumah sini selalu ngelihatin terus?” jawabannya kan sudah diketahui, adik ku pun tahu siapa seruni?wanita berumur 18 tahun, mahasiswi di universitas komunikasi, dengan langkah gontai yang membuat saya rela meski cuma bisa melihatnya saja setiap hari seumur hidupku, wanita kuning langsat, saya tidak tahu apa itu, tetapi dia berkulit putih, rambut hitam, tidak gemuk, tetapi maafkanlah cintaku kamu tidak lah tinggi. tetapi tidak masalah kok, bagiku kau adalah inspirasiku, banyak lagu-lagu karangan ku, yang saat ini hampir 20, jumlahnya 16, sudah kutulis, dan kucatat dengan kertas satu persatu, liriknya pun bisa diketahui dengan memainkan gitar, kebanyakan tentang cinta, wanita, keinginan, hasrat, gelora yang bukan hanya nafsu birahi, semangat hidup, inspirasi buat aku, sudah kutulis rata-rata setelah walaupun hanya melihat dia, dari jauh, depan, dekat, menyapa seruni. saya tidak peduli soal itu, namanya cinta, biar bisa melihat dari jauh, tetaplah cinta. karena rumah ku beratap, tingkat 2, yang terbuat dari kayu, tetapi bukan gubuk, yang rata-rata dari kayu, rumahku ada tembok dan pondasinya, tetapi kumuh, jauh dibandingkan yang seruni punya. bila dia berangkat kuliah, biasanya pagi 1/2 8, atau jam delapan selambatnya, sayapun memang tukang pengintip…tetapi ini rahasia yach. saya selalu melihatnya, mungkin bisa setiap hari, setiap seruni keluar dari rumahnya.

Saya dan dani sampai juga ke rumah ku, suasana gang yang ramai orang-orang beraktivitas dimalam hari, diluar rumah ku, tetapi aku merasa capek sekali malam ini, sekedar menyapa tetangga saja sudah aku lakukan dari tadi, yang biasanya aku berbicara, mengobrol, menimbrung dengan mereka. pintu kayu rusak, dan penuh dengan stiker dan cat yang terkelupas kubuka, dengan gagang berwana putih, perak berkarat, dan pintu masuk ke rumah ku ini tidak terkunci, aku buka lebar pintuku, yang disana ada ibuku sedang duduk di sofa robek dan bekas, menonton sinetronnya, dia melihat kami datang, setelah kami berdua masuk rumah, pintu ku kunci, dan duduk bersama ibuku. saya melihat wanita bintang film terkenal berpakaian seragam sekolah, yang penuh dengan senyum diwajahnya seakan bahagia. ya beginilah nasib dari keluarga ku, dengan rumah sederhana golongan menengah kebawah. bapak ku adalah pengendara bajaj, ibu ku mencari nafkah dengan menjual kue-kue, yang sedikit bisa membiayai makan kami. kami berdua penganguran, hanya mengamen yang kami bisa, maka dari itu musik adalah inspirasi ku, penyelamat ku. suatu saat saya yakin dalam hati, kehidupan saya akan lebih baik, bila saya mempunyai band dan bergelut di dunia musik indonesia, saya yakin kehidupan kami akan lebih baik. tetapi sekarang, ya sekarang, kondisi kami begini, mau tidak mau harus di terima. kami tidak mengeluh, atau berputus asa, karena ibu ku penuh dengan kasih sayang mengajarkan kepada kami sejak kami kecil, “lebih baik mencari sesuatu itu kecil hasilnya, dari pada mencuri banyak hasilnya” itulah yang tertanam diotak kami melalui pengalaman yang berharga yang di alami hari perhari, dimasa lalu. kami pun bersyukur dengan kehidupan seperti ini, tidak mau banyak menuntut, walaupun makan hanya 1 atau 2 kali sehari, kita jalani dengan syukur. saya memohon pamit kepada ibu ku dan dani ketingkat atas, yang dimana ada tempat tidurku, untuk langsung tidur, bapakku dimalam ini belum pulang dari nariknya, ya nanti saya akan temui dia besok.

Saya menaiki tangga kayu yang reyot tanpa pembatas di sisinya, tangga ini menyatu dengan tembok rumah dan tembok itu berada di sisi kiri ku. saya menapak satu persatu hingga naik, saya tidak melihat dani dan ibuku, sedang berbicara diruang bawah ku, karena aku sudah capek sekali, dan tanpa sadar saya sudah merabahkan tubuh ku disana, setelah pagi ku bangun ternyata saya belum melepas jaket lusuh ku, dimana kemarin saya keluar untuk mengamen. adik ku dani juga sedang tertidur pulas disamping ku. akupun melihatnya, dengan badan masih lelah sekali, saya pun melanjutkan tidur lagi belum beranjak ke tempat tidurku, tak berapa lama saya bangkit dan langsung mandi. di ruang bawah kamar ku. saya menuruni tangga dari kamar atas tidurku, dengan handuk di pundakku, seperti halnya prajurit roma dengan kain sebelah di samping pundak nya, tetapi saya tidak gagah, hanya kurang air untuk membasuh muka ku, dan menghaluskan kulit ku dengan sabun, saya pun perlu mandi. pagi itu pukul 7:25 hari telat untuk para pekerja, bukan untuk aku, saya tidak perlu mengejar bus, bila saat hari ini saya berkerja, saya tetap saya, saya pun ingin mandi, tetapi harus menunggu karena setelah ku tegur orang didalam nya, ayahku sedang mandi juga. kamar mandi ku terletak dibelakang ruang rumah ku, dengan pintu terkunci, tetapi disatukan dengan dapur disana ada tempat untuk menaruh perabotan makan, gelas, sendok, piring, ya begitulah kondisi nya. saya keluar dari pintu samping dari kamar mandi ku, keluar, mencari keran, rumah orang lain tetangga ku. kebetulan disana ada tetangga yang sedang mencuci motornya, meminta izin membasahi rambut, muka ku didepannya, prilaku yang tidak terpuji. saya pun tidak peduli. setelah beramah tamah, memuji motornya, saya kembali kedalam menuju ruang dapur yang menyatu dengan kamar mandi, ternyata pintu sudah terbuka, bapak ku sudah selesai mandi, dengan begitu saya langsuang masuk kekamar mandi, menutup pintunya dan mandi.

Susan Dipagi Ini

Saya menaiki mobil silver ku di luar rumah ku, setelah masuk dan saya siap untuk berangkat, ibu ku memanggil dari jauh yang terdengar oleh ku “Susan, Susan” memangil namaku, saya mematikan mesin mobil ku, tetapi ibu menghampiri sudah menuju kaca luar mobil ku, saya membuka kacanya yang otomatis, ibu ku mengadahkan muka kebawah, hingga bisa terlihat jelas oleh ku, lalu dia berkata kepada ku “kamu pulang jangan malam-malam ya, rangga nanti malam datang kesini, kamu harus ketemu ya” kata ibu ku tanpa senyum, saya memandang dan meyimak perkataannya, “Rangga” dalam hati “anak juragan itu, mau apa dia?” masih dalam hati. dengan logat malas membalas perkataan orang yang membuat orang balas membalasnya, seperti itu. inti nya satu ini adalah soal perjodohan, saya berumur 23 tahun tradisi mengajarkan jangan menikah lebih dari 23 tahun nanti di cap tidak laku, maka dari itu saya di jodohkan, oleh berbagai lelaki yang tidak cocok. karena kebanyakan mengandalkan orang tuanya, tidak mandiri, tidak sesuai dengan prinsip saya. saya membutuhkan lelaki yang mana saja, asal siap setiap saat, tanpa kepura-puraan apa adanya, dibalik lindungan harta bapaknya. kadang saya sangat membenci dengan orang tuaku, keduanya…seakan saya barang yang harus dijual, demi kebesaran bisnis ayahku, anak harus dijual, keteman bisnisnya, melancarkan kerjasama, sudah lebih dari 6 cowok aku tolak, 3 diantara masih berhubungan di nomor HP, ku sesekali bertemu dan manja nya bukan main. “OKE BU” saya menjawab dengan nada sedikit tinggi, yang dimana ibuku tidak melihat kondisi aku yang sedang mau berangkat kuliah, yang ada tes disana, dan saya pun tidak boleh terlambat. saya tersenyum “palsu” seolah iya, dan mengiyakan bertemu dengan rangga nanti malam, entah apa itu, yang pasti alasan bisa dibuat. menutup kaca disamping ku lagi, menyalakan mesin mobil dan berjalan keluar dari rumah ku ini.

Ardhi Dipagi Ini

Dengan santai kopi yang kutaruh di meja kantorku, saya menyelesaikan artikel harian untuk majalah yang akan dimuat minggu ini, tentang busana muslim, yang kurang nyambung dengan minat ku, yaitu musik. saya sudah melamar ke majalah musik ternama di negeri ini, tetapi panggilan ditunjukan dimajalah remaja untuk ku, dengan gaji berkepala 1,an. saya menerimanya. saya sedang menyelesaikan tugas yang diberikan untuk ku, dipagi hari ini, saya memiliki ruangan berskat, dengan komputer sendir-sendiri dengan pekerja lainnya, saya bersyukur bekerja di ruangan bagus ber-AC ini. maka dari itu saya tidak mau untuk “Resign” dari pekerjaan ini. tanpa sadar jam 1/2 9 sudah berjalan di ruangan ini, tetapi banyaknya tugas yang diberikan atasan untuk aku, aku seakan robot yang terus bergerak. waktu dijam dinding depan ku terus bertambah maju kedepan, dan tanpa sadar sudah jam sebelas siang. dalam bekerja saya ini adalah orang yang serius, meski tadi sempat rehat, sebentar mengambil minum di dispenser ujung ruangan ini, bertemu dengan rekan lain nya saat ku lewat, menegurnya, tetapi aku terus serius, yang ujung-ujungnya kembali kelayar komputerku ini. ya begitulah dengan kehidupan ku dengan pekerjaan yang menupuk, mempunyai boss sexy, berkacamata polos, putih, religius sekali, ingin rasanya saya ingin bercin*a, dengan nya, dalam hasrat ku, saya menyukai wanita berkacamata, dia itu sexy, tidak tahu sejak kapan istilah itu ada pada ku, tetapi sisi gelap ku kusalurkan ke musik rock, setelah pulang bekerja atau sedang ngeband. banyak yang tidak tahu tampang ku yang saat ini rapih, berpakaian kemeja putih, tanpa dasi, dengan celana kain, layaknya pakaian kerja ku. tetapi sisi gelap ku sulit terbendung, saya pun biasanya suka melakukan hubungan, kau tahu dengan wanita, yang bisa ku beri, selepas kerja, gila pesta, ya itulah sifat ku, liar didalam, tetapi baik dipenampilan. saya pun kadang bisa mengambil hati bos, yang lelaki, tetapi tidak dengan Winda, bos berkacamata ku, bagian redaksi, majalah ini, tidak ada yang tahu saya mencintainya, mungkin masih taraf menyukainya, karena dimata pekerja disini, saya yang paling sinis mencibirnya di waktu istirahat, tidak ada yang tahu….tetapi hati ku ada juga untuk nya.

Kembali Kekami

Saya rudi sanderos dan adikku dani, sedang bersiap untuk mengamen lagi, kali ini aku sedang makan, bersama diruangan yang ada tv ku. menyimak acara infotaiment di salah satu “yang terbesar” oke di negeri ini, RC.., kami sering menontonnya, terutama ibuku dengan sinetronnya. setelah kami berangkat, kami berdua merokok diatas, sambil bersiap-siap, mengecek gitar yang adik ku stem. aku menuju keluar dari kamar atas ku, yang ada ruang terbuka kosong disana, tidak terlalu lebar tetapi cukup untuk kami menjemur pakaian ku, duduk-duduk disana karena ada juga bangku malas, untuk biasanya kawan-kawan kami juga disana have fun, main gitar, menyanyi, berbicang, tak lupa disana ada sebuah pot kecil 6 buah, berisi tumbuhan lidah buaya dan sebagainya. yang paling terpenting dari semua ini saya berada dibalkon luar rumah ku adalah, bisa melihat jelas kejalanan, dimana halaman rumah seruni terlihat, bahkan saya bisa tahu kalau-kalau dia mau berangkat kuliah, kadang dia suka melihat saya, berdiri disana macam patung, dia berhenti sejenak dan berjalan lagi, lambat laun kehadiranku bagai batu yang diabaikan begitu saja. kali ini saya tidak memakai baju, karena gerah, tetapi dengan celana panjang khas ku, bolong-bolong. teman ku yang melihat saya dari bawah jalanan luar rumah ku berteriak “woi ada orang gila” saya pun melihat dia, tersenyum, tentunya dia juga bercanda, saat aku bertanya “mau kemana nih?” dia menjawab dan sambil lalu. saya kembali kedalam kamar, mengunci kamar ku, yang bisa menuju keluar balkon, apalagi setelah melihat adikku deni, sudah siap, kami pun siap. setelah berbenah sedikit, mengambil peralatan, menuruni tangga, mencium pipi ibuku, saya mohon pamit dan perjalanan hidup mencari makan dengan mengamen dimulai kembali.

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s