Pendekar Revolusi Part 2

Cerita ini adalah cerita perjuangan kemerdekaan saat melawan tentara asing yang menjajah negara Indonesia yang kelompoknya bernama “Pendekar Revolusi”. cerita dan karakter dalam cerita ini adalah fiksi. meski tempat, peristiwa dan tentang segala hal-hal terjadi Real/Asli. semata untuk mendukung, kedalam cerita ini.

Bagian Dua: Penyerangan Ke Sekolah 

Saya duduk dimejaku, dalam ruangan rahasia yang tak diketahui musuh. ruangan ini terpencil, dari reruntuhan gedung-gedung bekas ledakan tank serta penghancur dari musuh. gambaran luar tempat ini pasti tidak ada yang mengira dan tidak ada yang mau masuk kedalamnya. bekas gedung perkantoran ini kini sudah hampir runtuh tapi masih kuat untuk dijadikan markas.

Saya ingat jauh berapa tahun yang lalu, dimasa normal gedung ini adalah yang terbaik. penuh dengan marmer indah, lukisan indah dan semua orang masuk bekerja, jadi kebanggaan pribadi dari perusahaan yang bergerak dibidang Asuransi. saat ini didunia nyata, sudah tak ada lagi semua pekerja entah kemana telah terpencar dari gedung ini. bisa jadi ada pekerja yang tidak pernah menginjakan lagi kegedung ini.

Kabar terbaru dalam situasi negeri, setelah perlawan kami dirumah sakit kemarin, lalu kami dicap sebagai teroris dan menyebabkan perkampungan orang tidak bersalah jadi korbannya. jumlah 47 orang tak berdosa, wanita anak-anak tak bersenjata dieksekusi didinding-dinding sekitar. jadi bila ada orang negeri ini melawan mereka, para pengecut tentara asing tak akan segan membunuhi orang tak bersalah.

Dengan menanggis saya mendengarnya diradio, dengan rokok ditangan.

“Dasar biadab” saya membuang rokok arah dinding depanku!

Isabela istriku datang menghampiri dan dia berkata

“bukan salahmu” sembari memeluk dirku.

Kedatangan istriku memang bisa membuatku tenang, biar pun saya masih memikirkan aksi biadab ini.

Sesaat kemudian terdegar suara derap kaki sepatu berat seorang, perlahan mendekati ruangan saya berada. lalu terlihat 3 orang berpakaian compang-camping dengan senjata mesin melingkar dipundaknya. berhenti berjalan saat memasuki ruangan ini berdiri tepat didepanku.

Ketika saya memandang satu persatu wajah-wajah mereka, salah satu dari mereka berkata kepadaku:

“Lapor, pengamatan wilayah sudah selesai” sembari menelan ludah, lekat menatap mataku.

Saya yang sudah mengerti maksudnya, langsung bangkit dan duduk tegak dari rasa malasku. tangan istriku perlahan mulai dilepaskannya dan duduk dengan tegak disampingku.

“Baik” kataku pelan menjawabnya, masih mengeluarkan sedikit air mata

Dan saya berkata lagi:

“Tolong kumpulkan teman-temanku sebelum kalian pergi dari sini” jawab dari ku lagi.

Sehabis mendengar perkataanku, 3 orang itu lalu segera beranjak pergi dengan kode ala militer “hormat”, mereka satu persatu telah meningalkan ruangan ini.

Saya dan istriku masih menatap kepergian dari 3 orang itu, kemudian kami saling memandang wajah satu sama lainnya. ruangan kecil bekas kantor ini selanjutnya hanya kami berdua didalamnya dan kami hanya bisa terdiam tak bicara.

Gedung bertingkat ini meski belum runtuh sepenuhnya, layaknya gedung untuk pekerja kantoran, memilik skat-skat serta ruang-ruang kantor. kini sudah menjadi milik kami. para pejuang pembentukan awal kelompok ini juga tinggal disini mereka menempati ruang masing-masing. saya memilih ruangan paling pojok, juga dijuluki ruang komandan. karena dari sinilah taktik penyerangan musuh dibuat.

Satu persatu 3 orang itu memanggil teman-sahabat kami, berkumpul diruangan ini. rencananya saya akan memberi pengarahan dalam aksi yang disebut perang besok siang hari. tetapi akhirnya harus ditunda.

Saya sudah tak menanggis lagi, lantas berdiri menyambut sahabatku dan menyuruh mereka duduk dikursi-kursi tak bagus lagi diruangan ini. dari raut mereka yang terpaksa untuk duduk nyaman dan supaya mereka tak tersiksa lagi saya buru-buru menyatakan pendapat saya

“Kawan-kawanku..saya memutuskan…untuk penyerangan besok akan ditunda” kataku pelan

“Saya memikirkan bagaimana korban jatuh karena kita”

Anton yang duduk memperhatikan saya dia angkat bicara setelah saya selesai.

“Ditunda, apa maksudmu ditunda?” katanya protes.

Saya lalu melihat dirinya dengan lembut, menahan nafas kemudian bicara:

“Berita diradio menyatakan ada 47 korban tidak bersalah jadi korban. bila menyerang besok, akan banyak korban. kita harus memikirkan waktu yang tepat”

Anton yang kurang mengerti pikiran ku, dia berkata lagi:

“Ini kesempatan kita, besok itu waktu yang tepat” sambil melihat kiri dimana ada Johan dan Maria. lalu kanan ada Heri dan Tommy. Anton yang duduk ditengah-tengah dari mereka, saat ini, sedang kesal disebabkan keponakannya Iwan tewas saat bertempur dirumah sakit kemarin. saya mengerti dia kehilangan orang yang dicintainnya.

“Anton sahabatku” kataku lagi

“Saya sudah mengerti, kamu baru kehilangan keponakan mu, tetapi dia juga sahabatku. ini demi kebaikanmu, kita harus berhenti dalam beberapa hari kedepan harap kamu bisa mengerti” saya lalu memegang kedua pundaknya.

Bagi Anton membunuh tentara asing untuk membalaskan dendam kematian keponakannya itu yang terbaik, tetapi saya punya taktik yang lebih hebat, dalam meminimalisir korban orang sipil.

“Saya punya rencana” sembari melihat mata orang-orang diruangan ini.

Lanjut berbicara lagi:

“3 hari lagi kita menyerang dan membunuhi mereka”

Anton dengan mata bersinar bersemagat menatapku dan ia tak protes lagi, hanya diam melihat saya menguraikan rencana penyerangan untuk tiga hari kedepan. untungnya presentasi saya telah berhasil menyakinkan semua orang, puas atas rencana saya dan bonusnya bagi mereka dapat beristirahat 2 hari tanpa perang.

Kenapa harus 3 hari? karena mengkhawatirkan kondisi semua orang dan juga untuk memberi jeda dari perang yang melelahkan hari kemarin. bagi tentara asing 1 menit kedatangan kami adalah perencanaan membunuhi orang yang tidak berdosa. dengan jeda apalagi mereka tak tahu rencana saya, ini kejutan besar untuk mereka.

Selain istirahat, taktik utama saya juga untuk memberi tahu warga sipil yang mengungsi ditempat perkampungan seperti halnya kaum pinggiran (karena tak punya rumah lagi) supaya mereka melawan tiga hari lagi, saat tentara asing mengincar mereka.

Saya memang tak bisa menyuruh mereka pergi, itu rumah mereka sekarang. menyemangati, sedikit mempersenjatai adalah hal terpenting. meski mereka tak perang bersama kami, setidaknya ada perlawanan.

Saya telah menugaskan berapa orang pejuang kami untuk menyampaikan kabar kepada mereka semuanya disetiap perkampungan pengungsian warga sekitar. memang tugas berat, kadang pejuang kami menyamar dengan baju lusuh dan terus berjalan jauh beberapa meter.

Hasilnya dalam 2 hari kedepan, beberapa perkampungan warga menerima pesan saya. mereka siap mati walau tak ada senjata. mereka bahkan sudah membuat senjata dari bambu runcing atau panah dari kayu.

Kejamnya tentara asing yang merampas rumah warga dan mereka kehilangan hak miliknya, tapi tidak melawan hanya pasrah. akhirnya mereka tinggal dipinggir jalan membentuk komunitas dan tinggal dengan kondisi buruk. kami menyebutnya perkampungan.

Kabar yang terdengar oleh saya, bahwa seorang pembawa acara terkenal distation televisi negeri kami dulu, tinggal disana sekarang karena tak ada pilihan. begitu pula kami. yang untungnya setelah membentuk kelompok perjuangan, kami sudah tak memikirkan kehidupan masa lalu. meskipun sudah tahu, rumah kami telah diambil penjajah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang wildanrenaldi

Hi Friend Welcome, thank to visit this Blog, enjoy yourself to Read Post or Comment, Please Enjoy, Thank You.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s