Kisah Kerajaan Kutai

Kutai atau Dayak Kutai adalah nama tradisional daerah bersejarah di Kalimantan Timur diIndonesia pada Borneo dan juga nama orang Dayak di daerah dengan bahasa dengan nama yang sama dan negara bersejarah mereka. Saat ini nama yang diawetkan dalam nama tiga kabupaten di Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Kutai Timur. Sungai utama di daerah itu dan adalah Sungai Mahakam.

Sejarah

Sejarah biasanya dibagi dalam dua periode, yaitu fase awal Kutai Martadipura. beberapa waktu sekitar 350-400 dan Kutai Kartanegara kemudian fase awal sekitar 1300. Periode pertama diproduksi prasasti awal dikenal di Indonesia.

Kutai Kartanegara

Sekitar akhir abad ke-13 kerajaan Kutai Kartanegara didirikan di wilayah Tepian Batu atau Kutai Lama. Penguasa pertama yang diketahui adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti, yang diduga telah memerintah 1300-1325.  Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, yang memerintah 1.635-1.650, mampu menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura dan bergabung dua alam sehingga Kutai Kartanegara Ing Martadipura. 

  • Sebuah prasasti Yupa dengan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta

Pada 1667 Belanda VOC menyerang Makassar di Pulau Sulawesi yang mengarah ke jatuhnya Bugis Kerajaan Gowa .Beberapa Bugis di bawah kepemimpinan Lamohang Daeng Mangkona atau Pua Ado saya berimigrasi ke Kutai pada tetangga Borneo (Kalimantan) dan penguasa Kutai memungkinkan mereka untuk menetap di Kampung Melantai sekitar Karang Mumus Sungai, sekarang dikenal sebagai Kampung Selili. Penyelesaian ini akhirnya berkembang menjadi kota modern SamarindaIslam memegang di wilayah tersebut sejak abad ke-17 (sebagian besar adalah beragama Islam Bugis) dan Aji Muhammad Idris, memerintah 1.732-1.739?, adalah penguasa pertama yang memiliki nama Islam.

Setelah Aji Imbut perang saudara, setelah akhirnya menjadi penguasa sebagai Aji Muhammad Muslihuddin tahun 1780, memindahkan ibukota pada 1782 dari Pemarangan ke Tepian Pandan. Nama ibukota akhirnya dikembangkan dari Tangga Arung ke bentuknya yang sekarang dari Tenggarong .

  • Sebuah Yupa kuno Mulawarman, raja Kutai

Pada tahun 1844 Belanda mengalahkan Sultan Aji Muhammad Salehudin, memaksa dia ke pengasingan, dan mengambil kontrol langsung dari Kutai. Para Jepang menyerbu wilayah pada tahun 1942 dan mengakui sebuah “Kooti Kingdom”, yang merupakan subjek Tenno .Pada tahun 1945 Kutai bergabung, bersama dengan tetangganya, ke Kalimantan Timur federasi. Pada tahun 1949 Kutai akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat.

Bahasa Tai

Bahasa tradisional daerah ini disebut sebagai Tanggarong Kutai Melayu dan dianggap sebagai bahasa Melayu lokalseperti Banjar dan Bukit Melayu di selatan, Kota Bangun Kutai Melayu ke barat, Berau Melayu ke utara dan lain-lain yang lebih jauh. Dengan demikian Tanggarong Kutai milik besar rumpun bahasa Austronesia bahasa. Ini adalah bagian daribahasa Sunda-Sulawesi cabang, bersama dengan Melayu dan Iban serta Bugis dari Sulawesi Selatan yang juga diucapkan di Samarinda. Hal ini agak kurang terkait dengan bahasa Kalimantan-Filipina cabang yang dapat ditemukan hulu Kutai seperti Kenyah dan Kayan kelompok bahasa.